REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peningkatan kerja sama militer dan pertahanan antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini dinilai sebagai langkah politik luar negeri yang anomali. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal mengatakan peningkatan kerja sama itu tak tepat waktu, bahkan cenderung masa bodoh melihat realitas geopolitik global saat ini yang menjauhi rezim pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dino menjelaskan, dalam diplomatik, peningkatan hubungan dan kerja sama bilateral harus menjadikan penilaian momentum politik sebagai salah satu pertimbangan. Kata Dino, sekarang ini peningkatan kerja sama krusial di bidang militer dan pertahanan dengan AS, Indonesia tampak mengabaikan penilaian momentum politik tersebut.
“Kita melihat militer Amerika Serikat melakukan penculikan terhadap Presiden Maduro (Venezuela). Itu kan ilegal, melanggar hukum internasional,” kata Dino di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Kemudian militer AS juga melakukan pembunuhan sengaja terhadap pemimpin negara berdaulat Iran, Ayatollah Ali Khamenei serta melanjutkan invasi terhadap Iran. Pun militer AS melakukan pembunuhan terhadap ratusan anak-anak kecil saat mengebom sekolah di Minab, Teheran.
Selanjutnya melakukan penyerangan terhadap kapal militer Iran yang menewaskan banyak prajurit di perairan internasional Samudera Hindia, juga mengebom akses jembatan serta infrastruktur sumber daya Iran. Menurut Dino, rangkaian serampangan militer AS itu merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional, yang mengundang berbagai kecaman dari seluruh dunia.
“Saya tidak paham, di tengah semua kritik dan kecaman mengarah ke Amerika Serikat, bahkan sekutunya, dan negara-negara sahabatnya sendiri juga menjauhi Amerika Serikat, dan menentang, mengkritik langkah semena-mena militer Amerika Serikat yang melanggar hukum internasional itu, tetapi kenapa Indonesia malah jauh-jauh datang ke Amerika Serikat menandatangani peningkatan kerja sama militer?,” kata Dino.
Kata Dino, peningkatan kerja sama militer dengan AS itu, seperti Indonesia dalam fase paling egois. “Seakan-akan, dalam istilahnya itu indifference, tidak peduli terhadap semua situasi, dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat. Dari segi timing, semua itu sangat tidak tepat. Saya tidak bisa mengerti mengapa kita (Indonesia) saat ini seperti kehilangan kepekaan, bahkan indifference tadi, seperti masa bodo saja terhadap semua situasi saat ini,” ujar Dino.
Dino mempertanyakan apa kepentingan paling utama, dan krusial bagi Indonesia dalam peningkatan kerja sama bidang militer juga pertahanan dengan AS saat ini. Padahal, menurut Dino semua negara-negara yang selama ini menjadi sekutu, dan penyokong utama AS malah berbalik badan, dengan mengkritisi semua tindakan militer AS yang merasa paling benar melakukan aksi-aksi pelanggaran hukum internasional paling terang.
“Jadi kita harus melihat apa urgensinya untuk kita melakukan peningkatan kerja sama militer dan pertahanan dengan Amerika Serikat yang secara membabi buta melakukan hal-hal yang semuanya itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip internasional yang dipegang Indonesia,” kata Dino.

1 hour ago
1














































