MENTERI Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat ungkap tujuh strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati Indonesia atau Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045. Menurut Jumhur, IBSAP 2025-2045 tersebut selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).
"Tantangan kita sekarang adalah memastikan implementasinya berjalan nyata di lapangan," ujar Jumhur saat memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, Jumat, 22 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pada agenda yang mendapat dukungan dari pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) ini Jumhur menegaskan tujuh strategi untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia.
"Pertama, di tingkat bentang alam dan tata ruang, perlindungan ekosistem harus menjadi prioritas pembangunan. Kawasan lindung, koridor satwa, ekosistem pesisir, kawasan karst, dan wilayah bernilai konservasi tinggi harus dijaga melalui kebijakan yang jelas dan penegakan hukum yang kuat," papar Jumhur.
Kedua, kata Jumhur, di tingkat tapak harus memastikan tidak ada lagi praktik pembangunan yang merusak lingkungan. "Pemulihan ekosistem, rehabilitasi lahan kritis, pengendalian pencemaran, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan harus menjadi gerakan bersama," paparnya.
Ketiga, pemerintah daerah memiliki posisi yang sangat strategis. Menurutnya, konservasi keanekaragaman hayati harus terintegrasi ke dalam perencanaan pembangunan daerah, tata ruang, dan kebijakan-kebijakan di daerah.
Keempat, dunia usaha harus menjadi bagian dari solusi, seperti praktik usaha yang nature positive, rantai pasok berkelanjutan, pembiayaan hijau, dan restorasi ekosistem harus diperkuat. "Tidak boleh ada lagi pertumbuhan ekonomi yang dibangun dengan mengorbankan ekosistem," tegas Jumhur.
Kelima, masyarakat adat dan masyarakat lokal adalah penjaga utama keanekaragaman hayati Indonesia. Jumhur mengatakan pengetahuan tradisional, praktik hidup selaras alam, dan kearifan lokal harus dihormati, dilindungi, dan diperkuat.
Keenam, riset dan inovasi perlu terus dikembangkan secara bertanggung jawab, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya genetik, bioteknologi, dan digital sequence information, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian serta akses dan pembagian manfaat yang adil.
"Ketujuh, generasi muda harus menjadi pelopor masa depan konservasi. Anak-anak muda Indonesia harus menjadi generasi yang memahami, mencintai, dan menjaga keanekaragaman hayati," terang Jumhur.
Jumhur menegaskan saat ini tidak cukup hanya berbicara tentang konservasi, tetapi sudah waktunya membangun aksi, sesuai dengan tema tahun ini, yakni "Acting Locally for Global Impact".
"Aksi pemerintah, aksi dunia usaha, aksi masyarakat, aksi anak muda, aksi semua pihak. Karena sesungguhnya keberlanjutan Bumi ditentukan oleh keputusan dan tindakan yang kita ambil hari ini," ucap Jumhur.

















































