Jonatan dan Raymond/Joaquin Gagal Sempurnakan Pesta di Istora

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harapan publik tuan rumah untuk menyaksikan gelar Indonesia Open 2026 dari sektor tunggal putra dan ganda putra harus tertunda. Anthony Sinisuka Ginting dan pasangan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin sama-sama terhenti di partai puncak turnamen BWF World Tour Super 1000 yang berakhir di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Ahad.

Bagi Jonatan Christie, kegagalan kali ini terasa menyakitkan. Setelah tampil meyakinkan sepanjang pekan dan menembus final Indonesia Open untuk pertama kalinya, pebulu tangkis andalan Indonesia itu harus mengakui keunggulan wakil Kanada, Victor Lai, dalam dua gim langsung 19-21, 8-21 hanya dalam waktu 39 menit.

Atmosfer Istora yang penuh dukungan justru menjadi tekanan tambahan bagi Jonatan. Ia mengakui tidak mampu mengelola ketegangan yang muncul sejak awal pertandingan. "Sejak awal pertandingan memang ada tekanan yang cukup besar. Ketegangan juga sangat terasa. Saya rasa hari ini saya belum bisa mengelola tekanan itu dengan baik di lapangan," ujar Jonatan seusai laga.

Pernyataan tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa kartu kuning yang diterimanya pada gim kedua menjadi penyebab utama kekalahan. Menurut Jonatan, faktor terbesar justru datang dari dirinya sendiri yang gagal menemukan cara untuk mengendalikan tekanan dalam pertandingan sebesar final Indonesia Open.

Di sisi lain, Victor Lai tampil sangat tenang sepanjang laga. Pada gim pertama, Jonatan masih mampu memberikan perlawanan sengit sebelum menyerah 19-21. Namun memasuki gim kedua, wakil Kanada itu semakin percaya diri dan mampu mendominasi permainan hingga menutup pertandingan dengan kemenangan telak 21-8.

Jonatan menilai perkembangan tunggal putra dunia kini semakin merata. Banyak negara yang sebelumnya tidak diperhitungkan kini mampu melahirkan pemain berkualitas. Victor menjadi salah satu contoh nyata. Menurutnya, lawan mampu menjaga pengendalian diri dan menjalankan strategi pertandingan dengan sangat disiplin. "Menurut saya, itu perbedaan yang paling terlihat pada pertandingan hari ini," kata Jonatan.

Meski kecewa, pemain berusia 28 tahun itu memilih tidak berlarut-larut dalam kegagalan. Ia berencana mengambil jeda sejenak dari rutinitas turnamen untuk memulihkan kondisi fisik dan mental sebelum kembali fokus menatap Kejuaraan Dunia 2026 dan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Nasib serupa juga dialami pasangan muda Indonesia, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin. Tampil impresif sepanjang turnamen, keduanya harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan pasangan Malaysia Nur Izzuddin Rumsani/Goh Sze Fei dengan skor 21-13, 18-21, 10-21.

Sebenarnya Raymond/Joaquin mengawali laga dengan sangat menjanjikan. Mereka mengendalikan permainan sejak awal dan merebut gim pertama dengan meyakinkan. Pada gim kedua, peluang untuk mengangkat trofi semakin terbuka ketika pasangan Indonesia unggul jauh 14-8. Namun momentum perlahan berubah setelah pasangan Malaysia mulai menemukan ritme permainan dan meraih poin demi poin.

Raymond mengakui pengalaman lawan menjadi faktor pembeda dalam pertandingan tersebut. Sementara Joaquin menilai mereka kehilangan fokus pada momen krusial sehingga memberi kesempatan kepada Nur Izzuddin/Goh untuk bangkit.

"Kami benar-benar mengontrol lawan dari awal gim pertama sampai unggul 14-8 di gim kedua. Setelah lawan dapat satu dua poin, mungkin mereka melihat kami sempat bingung. Mereka lalu mengambil momentum itu," ujar Joaquin.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |