Para pekerja mengevakuasi kilang, yang terletak di selatan kota pelabuhan Jubail, Arab Saudi setelah dilaporkan adanya serangan pesawat tak berawak Iran pada Senin (2/3/2026).

Oleh : KH Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Infokomdigi 2025-2029.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Akhir Februari 2026 menjadi momen paling menegangkan dalam sejarah geopolitik Timur Tengah. Pada 28 Februari itu Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar terhadap negara Iran, di saat AS dan Iran tengah melakukan perundingan di Jenewa, Swiss.
Serangan sepihak AS-Israel itu dikenal dengan istilah Operation Lion’s Roar (raungan singa). Serangan udara dan rudal menghantam berbagai fasilitas militer serta infrastruktur strategis di Taheran dan kota-kota lain.
Dalam beberapa hari pertama saja, ribuan target militer menjadi sasaran serangan. Data yang dikutip berbagai laporan menunjukkan lebih dari 5.000 target di Iran telah diserang oleh operasi gabungan Amerika dan Israel tersebut. Serangan itu bukan tanpa balasan.
Iran merespons dengan peluncuran ratusan rudal balistik dan drone ke berbagai sasaran strategis milik AS (pangkalan militer) di kawasan Timur Tengah. Dan yang tak kalah menarik sasaran rudal Iran menghunjam ke beberapa kota Israel seperti Tel Aviv, kota pantai Haifa dan kota lainnya.
Dalam hitungan hari, konflik yang awalnya berupa operasi militer terbatas berubah menjadi krisis regional. Sebagian analis militer bahkan tak menutup kemungkinan perang ini bereskalasi menjadi Perang Dunia III, jika beberapa negara kuat lainnya terlibat saling mendukung terhadap perang tersebut.
Korban sipil pun mulai berjatuhan. Laporan dari otoritas kesehatan Iran menyebut lebih dari 1.200 orang tewas dan sekitar 12 ribu luka-luka dalam serangan tersebut.
Dampaknya tidak hanya militer. Industri penerbangan global terguncang. Lebih dari 23 ribu penerbangan internasional terganggu atau dibatalkan karena meningkatnya risiko keamanan di wilayah udara Timur Tengah.
Di tengah situasi yang mencekam itu, sebuah pertanyaan fundamental muncul terutama bagi umat Islam: jika konflik regional ini terus membesar, bagaimana nasib dua kota suci—Makkah dan Madinah yang dikenal dengan sebutan Al Haramain?
Di kota Makkah berdiri Masjid al-Haram, tempat Ka'bah menjadi pusat tawaf umat Islam. Sementara di Madinah berdiri Al-Masjid an-Nabawi, tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW.
Setiap tahun, jutaan umat Islam lebih dari 180 negara datang ke dua kota tersebut untuk menunaikan ibadah haji (sebagai kewajiban terakhir dari lima rukun Islam) dan ibadah umrah serta berziarah ke Makam Rasulullah SAW.

4 hours ago
2















































