Jelang Muktamar NU, Sejumlah Nama Disebut Bisa Masuk Bursa Caketum PBNU

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sejumlah nama disebut-sebut masuk dalam bursa calon ketua umum. PBNU sepekan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya yaitu KH Yahya Cholil Staquf, KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan KH Yusuf Chudlori.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Muktamar mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa".

Intelektual muda NU sekaligus peneliti Insantara, M Wildan, menilai keempat nama tersebut memiliki modal politik-organisasi, basis dukungan, jaringan, pengalaman, serta karakter kepemimpinan yang berbeda.

"Mereka masing-masing memiliki basis dukungan, pengalaman, jaringan dan karakter kepemimpinan berbeda. Modal politik-organisasi sekaligus tantangan yang berbeda," ujat Wildan dalam keterangan pers, Jumat (21/8/2026).

Menurut dia, kandidat pertama adalah Ketua Umum PBNU saat ini, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Sebagai petahana, Gus Yahya dinilai memiliki keunggulan berupa pengalaman memimpin PBNU, penguasaan terhadap struktur organisasi, serta jaringan yang terbentuk selama periode kepemimpinannya.

Wildan menyebut sejumlah agenda modernisasi organisasi menjadi bagian dari warisan kepemimpinan Gus Yahya, termasuk digitalisasi tata kelola melalui berbagai platform organisasi.

"Dari sisi politik organisasi, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mempertahankan kepemimpinan," ujarnya.

Namun, posisi sebagai petahana juga menghadirkan tantangan tersendiri. Gus Yahya, kata Wildan, tidak hanya menawarkan program baru, tetapi juga harus mempertanggungjawabkan capaian selama satu periode kepemimpinannya.

"Polemik tata kelola organisasi, hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah, persoalan keuangan, pengelolaan aset dan usaha organisasi, hingga berbagai kontroversi dan kasus korupsi yang melibatkan pengurus menjadi bahan evaluasi yang tidak dapat dilepaskan dari arena Muktamar," jelasnya.

Di internal NU, penilaian terhadap periode kepemimpinan Gus Yahya juga disebut terbelah. Sebagian kalangan menilai Gus Yahya membawa modernisasi dan membuka ruang baru bagi NU di tingkat global. Namun, sebagian lainnya menyoroti persoalan tata kelola dan konsolidasi internal.

"Bahkan kepemimpinan Gus Yahya oleh sebagian besar kalangan dianggap paling gagal dalam sejarah PBNU," kata Wildan.

Nama kedua yang dinilai semakin diperhitungkan adalah KH Imam Jazuli. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, tersebut menawarkan positioning sebagai kandidat independen dengan latar belakang pesantren, pengalaman akademik, dan gagasan transformasi NU.

Wildan mengatakan perhatian terhadap Imam Jazuli menguat seiring gagasan dan gerakannya dalam mendorong transformasi pesantren serta peningkatan kualitas sumber daya santri.

Sejumlah kalangan, kata dia, melihat Imam Jazuli sebagai figur yang dapat menjembatani kelompok yang menghendaki perubahan dengan kelompok yang menginginkan kesinambungan tradisi organisasi.

Agenda yang dibawanya bertumpu pada tiga isu besar, yakni persatuan NU, penguatan kembali marwah dan otoritas ulama, serta transformasi pesantren sebagai fondasi NU memasuki abad kedua.

Kemandirian finansial secara personal juga dinilai menjadi salah satu modal Imam Jazuli. Hal itu membuatnya relatif lebih leluasa membangun komunikasi lintas kelompok tanpa terlalu terbebani persepsi mengenai keterikatan dengan kekuatan politik tertentu.

"Sosoknya yang aktif melakukan pertemuan lintas tokoh dan generasi, dapat menjadi titik temu bagi kelompok yang menginginkan persatuan, rekonsiliasi dan ishlah organisasi setelah periode PBNU ini yang diwarnai kontroversi," ujarnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |