REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks inklusi keuangan syariah turun di tengah peningkatan inklusi keuangan nasional. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks inklusi keuangan syariah turun dari 13,41 persen pada 2025 menjadi 13,24 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan nasional meningkat dari 92,74 persen menjadi 93,61 persen.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi perbankan syariah untuk memperluas penggunaan layanan keuangan syariah. PT Bank BCA Syariah memilih keluarga, termasuk anak-anak, sebagai salah satu sasaran untuk membangun kebiasaan menggunakan layanan keuangan syariah sejak dini.
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan rendahnya inklusi keuangan syariah menunjukkan masih besarnya ruang yang dapat digarap. Karena itu, bank perlu menghadirkan produk yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau kita melihat literasi yang masih rendah itu, maka yang dilihat lebih ke bukan challenge, tapi potensinya yang masih besar yang bisa kita garap,” kata Yuli dalam Media Update Kinerja BCA Syariah Semester I 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Yuli, keluarga menjadi salah satu sasaran penting karena pengenalan layanan keuangan syariah dapat dimulai dari lingkungan terkecil. BCA Syariah kemudian menyiapkan BSyA Junior untuk anak berusia 12-17 tahun.
Layanan tersebut memungkinkan orang tua menyetujui aktivasi sekaligus memantau transaksi anak. BSyA Junior juga dapat digunakan untuk memulai setoran awal haji sejak anak berusia 12 tahun.
“Literasi mengenai keuangan, khususnya keuangan syariah, itu harus dimulai sejak dini. Dan kita harus partner sama sekolah-sekolah,” ujar Yuli.
BCA Syariah sebelumnya melakukan edukasi keuangan di sekolah melalui produk Simpanan Pelajar (Simpel). Kehadiran BSyA Junior akan melengkapi pendekatan tersebut sehingga pengenalan perbankan syariah tidak berhenti pada edukasi, tetapi berlanjut pada penggunaan produk.
Yuli mengatakan strategi memperluas inklusi tidak akan bergantung pada satu produk. BCA Syariah akan menggabungkan berbagai layanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari transaksi hingga kebutuhan jangka panjang.
“Kalau ditanya apakah ada satu produk champion yang akan membawa BCA Syariah, kami harus mengkolaborasikan semuanya,” kata dia.
Selain menyasar anak dan keluarga, BCA Syariah juga melihat potensi besar dari produk pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Salah satunya pembiayaan emas yang tumbuh 127,6 persen secara tahunan menjadi Rp 684 miliar pada Juni 2026. Porsi pembiayaan emas terhadap total pembiayaan konsumer juga meningkat dari 25 persen menjadi 28 persen.
Meski demikian, BCA Syariah belum mengubah target pertumbuhan hingga akhir tahun. Yuli mengatakan perseroan masih menggunakan target yang telah ditetapkan dalam rencana bisnis bank (RBB).
“Kalau kami target pertumbuhan masih mengacu, kami enggak revisi RBB,” ujarnya.

2 hours ago
2














































