KUASA Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Jepang Myochin Mitsuru mengatakan Jepang sudah melakukan beberapa upaya untuk meredakan situasi di Timur Tengah. "Kami telah mengerahkan upaya maksimal untuk meredakan situasi di wilayah ini," katanya dalam diskusi media di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta pada Kamis 23 April 2026.
Dia mengatakan ketegangan di Timur Tengah, khususnya serangan terhadap Iran yang akhirnya membuat perlintasan kapal di kawasan Selat Hormuz terhadap berdampak sangat serius secara global. Myochin mengatakan Jepang mendorong upaya de-eskalasi sedini mungkin, melalui kerja sama dengan negara-negara G7, dan juga negara-negara Teluk di Timur Tengah. "Kami sekarang sedang melakukan upaya diplomatik untuk menyerukan de-eskalasi situasi sesegera mungkin kepada negara-negara Teluk," katanya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pun telah menekankan perlunya melakukan upaya bersama dengan komunitas internasional, termasuk menggandeng Amerika Serikat untuk meredakan situasi sedini mungkin dan mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Dalam kunjungannya ke Washington, D.C. pada 19 Maret 2026, Takaichi bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sepakat bahwa mereka akan terus menjaga komunikasi yang erat untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz. "Kedua pemimpin sepakat untuk berkomunikasi secara intensif demi terwujudnya de-eskalasi situasi di wilayah tersebut sedini mungkin," kata Myochin lebih lanjut.
Selain itu, Jepang juga telah melakukan upaya diplomatik dengan Iran melalui percakapan via telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Upaya diplomatik juga dilakukan di tingkat Menteri Luar Negeri. Myochin mengatakan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi juga telah melakukan percakapan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebanyak lima kali, dan menekankan pentingnya memulihkan stabilitas di Selat Hormuz.
Dalam kesempatan itu, Jepang mendesak Iran untuk segera memastikan kebebasan dan keamanan navigasi bagi semua kapal, termasuk kapal-kapal Jepang, dan negara-negara Asia lainnya.
Tidak hanya upaya bilateral, Jepang juga melakukan upaya multilateral dengan bergabung dalam pernyataan bersama para pemimpin terkait Selat Hormuz pada 19 Maret.
Yang terbaru pada 17 April, Jepang juga bergabung dalam pertemuan para pemimpin tentang kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang diselenggarakan oleh Prancis dan Inggris.














































