INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 6.628,59 pada pagi hari ini, Senin, 18 Mei 2026 atau melemah dibandingkan dengan penutupan pekan lalu yang berada di posisi 6.723,32. IHSG sempat melemah hingga 4,28 persen ke level 6.435 pada pukul 10.00 WIB.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengungkapkan fokus pasar pekan ini masih akan tertuju pada implementasi rebalancing atau penyesuaian indeks dan bobot saham Morgan Stanley Capital International (MSCI). “Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global,” katanya dalam siaran pers pada Senin, 18 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Namun begitu, Imam memperkirakan terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR. Ia juga mengatakan pasar mulai mengantisipasi potensi peningkatan Korea Selatan dari emerging market menjadi developed market. Dalam jangka menengah, hal itu dapat membuka peluang aliran realokasi ke pasar emerging, termasuk Indonesia.
Lebih jauh Imam menjelaskan, secara teknikal, IHSG saat ini masih berada dalam fase bearish dengan support di area 6.640 hingga 6.538. IPOT menilai tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibandingkan dengan deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural.
Menurut Imam, dengan pertumbuhan ekonomi di level 5,61 persen pada kuartal I-2026, pasar domestik masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien. “Namun, hingga arus dana asing mulai stabil pasca berlakunya penyesuaian MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” tuturnya.
Selain IHSG, nilai tukar rupiah juga jeblok pada hari ini. Pada pagi ini, kurs rupiah melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp 17.630 dibandingkan dengan saat penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS. Saat berita ini tayang, rupiah telah anjlok ke level Rp 17.672 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan anjloknya rupiah seiring dengan hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping tak banyak membahas solusi terkait perang AS-Iran.
Ia menyatakan rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global pada Jumat pekan lalu, sementara dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset. "Termasuk obligasi, saham, kripto, dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran,” katanya dikutip dari Antara.
Sebelumnya, dalam pertemuan Xi dan Trump, Cina menganjurkan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan mempertahankan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya mendorong perdamaian dan memfasilitasi perundingan, dan akan terus memainkan perannya untuk mendorong perang segera mereda serta memulihkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, upaya mediasi yang dipimpin Pakistan dengan AS belum gagal, tetapi menghadapi “jalan yang sangat sulit”, dengan alasan ketidakpercayaan terhadap Washington dan pesan-pesan Amerika yang kontradiktif. Ia menyebutkan Iran tetap berkomitmen pada diplomasi meski apa yang digambarkannya sebagai gencatan senjata yang “goyah” setelah perang baru-baru ini yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran.
Menurut beberapa laporan media, menurut Lukman, Trump akan memutuskan dalam beberapa jam mendatang apakah akan melanjutkan serangan terhadap rezim Iran atau tidak. Sebab, pembicaraan yang bertujuan untuk mengakhiri konflik dan mengatasi program nuklir Iran sejauh ini masih gagal mencapai kesepakatan.
Akibat sentimen tersebut, harga minyak mentah dunia kembali naik. Kendati Cina dan AS menyepakati sejumlah kerja sama, namun respons pasar tak sekuat kekhawatiran terhadap harga minyak dunia yang tinggi. “Kedua negara dan dunia menginginkan perang berakhir, namun sepertinya sulit bagi Iran melepas ambisi nuklir mereka, sehingga dalam pertemuan Xi dan Trump lebih banyak membahas hubungan kedua negara,” kata Lukman.
Sementara itu, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan rupiah jeblok juga dipicu oleh respons pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan penguatan dolar tidak berdampak bagi warga desa. Menurut dia, pernyataan tersebut bisa memicu persepsi negatif di kalangan pelaku pasar.
















































