Biaya Produksi Naik Akibat Rupiah Melemah, Industri Hadapi Situasi Sulit

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai memberi tekanan signifikan terhadap industri manufaktur nasional, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor. Pelaku usaha disebut terus melakukan penyesuaian guna menjaga keberlanjutan produksi di tengah volatilitas kurs.

Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, dunia usaha selama ini berupaya menyesuaikan perubahan nilai tukar agar operasional industri tetap berjalan. “Dunia usaha selalu melakukan penyesuaian perubahan nilai tukar. Hal tersebut di samping terjadi perubahan biaya produksi juga berdampak pada struktur pembiayaan industri,” ujar Benny saat dihubungi Republika di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurut Benny, tekanan terbesar dirasakan industri manufaktur yang masih mengandalkan bahan baku dan bahan penolong impor. Kenaikan kurs dolar secara langsung meningkatkan biaya produksi sehingga margin usaha semakin tertekan.

“Dampak untuk biaya produksi industri manufaktur, terutama terjadi pada sektor yang bahan baku dan bahan penolongnya masih diimpor,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) tersebut.

Benny menambahkan, ketergantungan industri manufaktur terhadap bahan baku impor masih tinggi. Secara nasional, sekitar 70 persen bahan baku industri manufaktur masih berasal dari impor sehingga pelemahan rupiah sangat memengaruhi ongkos produksi. “Bahan baku dalam struktur biaya produksi sekitar 60 persen dari total biaya,” ucap Benny.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurrahman menilai pelemahan rupiah hingga menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS memberi tekanan besar bagi industri manufaktur nasional. Rizal menyebut banyak sektor masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, dan komponen.

“Industri otomotif, elektronik, farmasi, tekstil, hingga makanan-minuman menjadi paling rentan karena depresiasi rupiah langsung menaikkan biaya produksi, logistik, dan energi,” ujar Rizal.

Rizal menjelaskan, industri juga menghadapi tekanan dari sisi permintaan domestik yang melemah akibat daya beli masyarakat tertekan sehingga muncul tekanan ganda terhadap sektor manufaktur.

Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, suku bunga global yang tinggi, perang dagang, serta ketidakpastian geopolitik mendorong arus modal keluar dari negara berkembang. Dari sisi domestik, tingginya ketergantungan impor dan lemahnya struktur industri hulu membuat manufaktur sensitif terhadap gejolak kurs.

“Jika berlangsung lama, kondisi ini berisiko menahan ekspansi industri, menekan utilisasi pabrik, hingga mempercepat deindustrialisasi dini,” sambung Rizal.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |