Horor Sejarah Era Jim Crow

3 hours ago 1

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film ini sejatinya diprediksi akan menjadi bencana nasional Hollywood. Bahkan sebelum kamera dinyalakan, sebelum filmnya dibuat, banyak orang sudah menyiapkan kain kafan industri film Amerika Serikat.

Judulnya Sinners, para pendosa. Genrenya bukan religi, tapi horor vampir dengan mulut-mulut berlumuran darah. Latar waktunya Amerika Selatan era Jim Crow — masa ketika hukum rasis dilegalkan dengan jas rapi dan senyum palsu.

Belum lagi pemerannya, yang mayoritas berkulit hitam. Difilmkan dengan IMAX 70mm pula, teknologi mahal yang biasanya hanya dipakai untuk film-film pahlawan super berotot atau ledakan antarplanet.

Hollywood pun gelisah. “Ini terlalu berisiko,” kata para pialang film sambil menyesap kopi mahal. “Tak akan laku.” “Penonton tidak mau sejarah, sekarang sudah era AI, tidak suka vampir.” “Apalagi sejarah orang hitam.”

Bahkan Warner Bros yang memproduksi film ini dianggap seperti orang yang sedang berjudi di meja kasino sambil menjaminkan rumah warisan neneknya. Ia mengucurkan anggaran hampir 100 juta dolar untuk film ini.

Tak cuma itu, ia memberi Ryan Coogler sang sutradara hak final cut, bahkan menjanjikan kepemilikan penuh film itu setelah 25 tahun. Sebuah kontrak yang membuat para eksekutif studio lain langsung masuk angin permanen.

Mereka yakin: ini bukan sekadar film gagal, tapi potensi kiamat sistem studio. Tapi nyatanya, kiamatnya batal. Sinners tayang saat akhir pekan Paskah — dan melakukan kebangkitan kecilnya sendiri.

Film ini melesat hingga meraup 368 juta dolar, menjadi film orisinal terlaris dalam 15 tahun terakhir, sekaligus masuk jajaran 10 besar film rating R terlaris sepanjang sejarah Amerika.

Itu rating yang lebih tinggi dari Terminator 2. Lebih kuat dari The Hangover. Vampirnya menggigit statistik box office sampai berdarah. Tiba-tiba semua orang angkat bicara banyak hal.

Bukan cuma soal film, tapi soal sejarah kulit hitam, penghapusan budaya, politik hiburan, dan ingatan kolektif yang selama ini disapu ke kolong karpet nasional. Meme juke joint beredar liar di media sosial.

Juke joint adalah tempat hiburan informal khas komunitas Afrika-Amerika di pedesaan Amerika Serikat bagian tenggara, terutama populer di awal abad ke-20. Tempat melepas penat bagi pekerja kulit hitam yang dibatasi masuk ke tempat hiburan kulit putih selama era Jim Crow.

Tempat ini menjadi pusat sosial untuk minum, berdansa, judi, dan mendengarkan musik blues. Juke joint seringkali didirikan di bangunan darurat atau rumah pribadi oleh pekerja perkebunan setelah masa perbudakan.

Di tengah pemutaran film Sinners yang kisahnya berpusat di satu juke point, esai-esai serius bermunculan membedah kontribusi tempat itu terhadap sejarah musik Amerika. Blues yang dulu lahir dari penderitaan kini kembali sebagai alat gugatan budaya.

Coogler memang menulis naskahnya hanya dua bulan — sebuah fakta yang sempat dijadikan bahan ejekan. Tapi yang tak dibaca oleh para sinis adalah: dua bulan itu ditopang oleh riset bertahun-tahun.

Ia menyelam ke folklore Mississippi Delta, simbol-simbol budaya pra-Perang Saudara, sejarah blues, foto-foto tahun 1930-an, hingga mitologi penduduk asli Amerika. Kita pun jadi tahu, desa-desa Amerika tahun itu tak beda dari kita.

Semua itu berawal dari mendiang pamannya yang dulu mengenalkannya pada musik blues lewat koleksi piringan hitam tua — jenis warisan yang tidak bisa dijual di e-commerce.

Ia bahkan melibatkan profesor sejarah universitas dan menggali kisah imigran Tionghoa di Amerika Selatan — kelompok yang sering absen dari buku sejarah. Dalam film ini, mereka tidak bicara dengan aksen karikatural.

“Kami senang bisa tampil sebagai orang Asia yang berbicara bahasa Inggris normal,” kata Yao, aktor asal Malaysia yang berperan sebagai pemilik toko bersama Li Jun Li. “Dan kami juga seksi, tentu saja.” Sejarah akhirnya boleh sedikit genit.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |