REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali mengguncang pasar energi global setelah penutupan Selat Hormuz menghentikan pengiriman minyak dari sejumlah negara produsen. Situasi tersebut memaksa Irak memangkas produksi sekaligus mempercepat pencarian jalur ekspor alternatif agar pasokan energi tetap mengalir ke pasar internasional.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perminyakan Irak Hayyan Abdul Ghani mengatakan pemerintah di Baghdad tengah bekerja secara intensif untuk memulihkan kapasitas ekspor minyak setelah gangguan yang dipicu konflik regional.
Dalam pernyataannya, Abdul Ghani menjelaskan bahwa Irak sebelumnya memproduksi sekitar 4,4 juta barel minyak per hari sesuai kuota OPEC, dengan ekspor mencapai sekitar 3,4 juta barel per hari. Sebagian besar ekspor tersebut selama ini dialirkan melalui fasilitas di wilayah selatan, terutama Terminal Minyak Basra, sebagaimana diberitakan TRT World.
Namun, penutupan Selat Hormuz sebagai jalur maritim utama pengiriman energi dunia memaksa Irak menghentikan ekspor dan menurunkan produksi secara drastis. Produksi minyak kini dipangkas hingga sekitar 1,5–1,6 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pemerintah juga memastikan kilang minyak tetap beroperasi pada kapasitas maksimum guna memasok bensin, solar, gas minyak cair, serta berbagai kebutuhan energi nasional.
Jalur Pipa Kirkuk–Ceyhan
Sebagai langkah darurat, Baghdad mempercepat pengoperasian kembali Pipa Minyak Kirkuk–Ceyhan, jalur energi strategis yang menghubungkan ladang minyak di Irak utara dengan pelabuhan ekspor di Turki. Pipa ini memiliki panjang sekitar 970 kilometer, membentang dari wilayah Kirkuk menuju Ceyhan di pesisir Laut Mediterania. Infrastruktur tersebut memungkinkan minyak Irak langsung mencapai pasar global melalui Laut Mediterania tanpa harus melewati jalur laut di Teluk Persia.
Pembangunan pipa Kirkuk–Ceyhan dimulai pada awal 1970-an sebagai proyek kerja sama energi antara Irak dan Turki. Jalur pertama mulai beroperasi pada 1977 dan kemudian diperluas dengan jalur tambahan untuk meningkatkan kapasitas pengiriman. Sejak saat itu, pipa tersebut menjadi salah satu infrastruktur energi terpenting di kawasan Timur Tengah karena menghubungkan cadangan minyak besar Irak dengan pelabuhan ekspor di Mediterania.
Menurut Abdul Ghani, minyak mentah dapat segera dialirkan melalui pelabuhan Ceyhan dengan kapasitas awal sekitar 200 ribu hingga 250 ribu barel per hari. Saat ini proses pengujian dan pemeliharaan hampir rampung, termasuk pengujian hidrostatik pada segmen pipa sepanjang sekitar 100 kilometer yang diperkirakan selesai dalam waktu satu pekan.
Jika jalur ini kembali beroperasi, minyak mentah dari ladang Kirkuk dapat langsung dialirkan ke Turki tanpa melewati wilayah yang dikuasai Pemerintah Daerah Kurdistan Irak, sehingga mempercepat proses distribusi dan memperkuat kendali pemerintah pusat atas ekspor minyak dari wilayah utara.

4 hours ago
2















































