Oleh: Nabil Syuja Faozan*)
Pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga tentang kesehatan, baik dari aspek fisik, mental, maupun sosial. Dalam konteks ini, guru dan peserta didik bukan sekadar pelaku proses belajar-mengajar, melainkan juga manusia yang membutuhkan lingkungan sehat. Dengan begitu, mereka semua dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan adanya ironi yang belum sepenuhnya terurai. Fenomena guru honorer di Indonesia mencerminkan persoalan kesehatan sosial yang serius.
Di satu sisi, mereka adalah ujung tombak pendidikan yang membentuk masa depan bangsa. Namun di sisi lain, banyak di antara mereka hidup dalam ketidakpastian ekonomi, minim perlindungan sosial, dan tekanan kerja yang tinggi. Kondisi demikian tidak hanya berdampak pada kesejahteraan finansial, melainkan juga kesehatan mental mereka.
Kesehatan mental guru
Dalam perspektif kesehatan, tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat memicu stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Penelitian yang dilakukan oleh Pamungkas dan Wibowo (2024) menunjukkan, kesejahteraan guru sangat berpengaruh terhadap stabilitas psikologis mereka.
Guru dengan pendapatan yang layak dan lingkungan kerja yang suportif cenderung memiliki tingkat burnout yang lebih rendah. Sebaliknya, ketidakpastian status dan penghasilan justru memperbesar risiko kelelahan emosional yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pengajaran.
Kesehatan mental guru menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembelajaran yang sehat. Guru yang sejahtera secara psikologis akan lebih mampu menghadirkan suasana kelas yang positif, penuh empati, dan inspiratif. Dalam jangka panjang, hal ini akan membentuk iklim pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara emosional.
Di sisi lain, persoalan infrastruktur pendidikan juga memiliki dimensi kesehatan yang tidak kalah penting. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (2024) mencatat bahwa ketimpangan fasilitas pendidikan masih menjadi persoalan klasik yang belum terselesaikan. Minimnya sarana, buruknya kondisi bangunan sekolah, serta belum meratanya akses pendidikan inklusif menjadi tantangan nyata.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
1

















































