
Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja, atau lebih tepatnya, sedang bersiap berganti baju sejarah. Genosida yang berlangsung di Jalur Gaza sejak akhir 2023 bukan sekadar tragedi kemanusiaan lokal; ia adalah titik balik (inflection point) yang menelanjangi retorika usang peradaban Barat modern.
Di saat yang sama, ketegangan regional antara Iran dan Israel, serta perang dingin geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, menegaskan satu hal: tatanan dunia unipolar yang dipimpin Washington sedang berada di ruang tunggu keruntuhannya.
Mantan Direktur stasiun TV Al Jazeera, Wadah Khanfar, baru-baru ini dalam Al Sharq Youth Podcast pada 9 Juli 2026 memberikan peringatan keras. Beliau melihat adanya retakan besar dalam arsitektur kekuasaan global. Bagi publik dunia Islam, fenomena ini bukanlah kejutan tanpa pola.
Jauh sebelum sosiolog Barat merumuskan Thucydides Trap—kondisi ketika kekuatan lama (AS) merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan baru (Tiongkok)—Al-Qur’an telah menetapkan hukum besi sejarah yang absolut: ‘Sunnatullah at-Tadawul’ (hukum pergiliran peradaban). "...Dan masa-masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..." (QS. Ali 'Imran: 140)
Ilusi Moralitas Barat dan Jebakan Sun Tzu
Selama hampir satu abad, Barat mendikte dunia melalui instrumen ganda: superioritas militer-ekonomi (hard power) dan narasi moral universal seperti HAM, demokrasi, dan hukum internasional (soft power). Namun, pembiaran—bahkan dukungan mutlak—AS dan sebagian Eropa terhadap kebrutalan Israel di Gaza telah meruntuhkan tiang moral tersebut. Barat hari ini kembali ke watak aslinya di era kolonial: peradaban yang mempertahankan dominasi lewat unjuk kekuatan dan standar ganda yang vulgar.
Di panggung global yang lebih luas, AS yang panik mulai terjebak dalam perilaku agresif demi mempertahankan hegemoninya. Mereka menggunakan sanksi sepihak dan ancaman militer. Sebaliknya, Tiongkok bermain dengan filosofi "Kesabaran Strategis" ala Sun Tzu: memenangkan pertempuran tanpa harus menembakkan peluru utama.
Pelemahan dominasi ini bukan sekadar narasi, melainkan kalkulasi matematis yang riil:
1. Dedolarisasi Nyata: Berdasarkan data IMF, pangsa dolar AS dalam cadangan devisa global telah turun dari sekitar 71% pada tahun 1999 menjadi di bawah 58% belakangan ini. Sistem pembayaran alternatif non-SWIFT dan penggunaan Yuan atau mata uang lokal dalam transaksi minyak (seperti petroyuan) perlahan menggerogoti senjata ekonomi paling mematikan milik Washington.
2. Monopoli Keamanan yang Retak: Strategi Israel untuk memonopoli daya tangkal (deterrence) di Timur Tengah kini menghadapi jalan buntu. Langkah agresif Tel Aviv justru memicu kesadaran baru di negara-negara tetangga, termasuk Turki, bahwa ambisi eksistensial Israel adalah ancaman langsung bagi keamanan nasional kolektif, bukan lagi sekadar urusan domestik Palestina.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

6 days ago
35











































