Home > Kisah Tuesday, 18 Nov 2025, 11:02 WIB
Rezim berganti, Buya Hamka bebas. Ia beraktivitas seperti semula.
Buya Hamka. (Foto: Dok. bctemas.beacukai.go.id)SUMATRALINK.ID -- Tak banyak orang yang berhati mulia tanpa dendam kesumat saat menghadapi ujian dan cobaan dalam hidupnya. Salah satu sosok yang dimiliki negeri ini, Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang disapa Buya Hamka.
Keteladanan seorang tokoh bangsa, apalagi ia menyandang status seorang ulama sekaligus penulis dan sastrawan anak Minangkabau ini menjadi panutan bagi generasi bangsa ini selanjutnya.
Dalam pergulatan politiknya, Buya Hamka pernah dipenjara Soekarno selama dua tahun empat bulan pada 1964-1966. Ia dituduh subversif, melanggar Undang Undang Anti-Subversif Pempres Nomor 11 dengan tudingan merencanakan pembunhan Presiden Sukarno.
Masa di penjara dua tahun lebih, habis sudah kiprah Hamka di publik. Berdakwah dan menebar tulisan, juga tentu mencari rezeki Allah untuk keluarga. Keluarga pun terpaksa menjual barang rumah tangga termasuk perhiasan untuk menyambung hidup.
Muktamar Muhammadiyah
Kedekatan Sukarno dengan Hamka terjadi sejak di Yogyakarta sebelum Indonesia merdeka. Saat itu, Muktamar Muhammadiyah ke-30 pada Januari 1941. Berdasarkan referensi yang diperoleh, keakraban dua tokoh bangsa ini berlanjut tatkala Sukarno diasingkan ke Bengkulu. Hamka menjenguk Sukarno di Bengkulu, keduanya akrab.
Setahun kemudian, Sukarno menjenguk Hamka di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Setibanya di Tanah Minang, Hamka menghadiahi Sukarno puisi. Judulnya, Sansai juga aku kesudahnnya. Dari pertemuan itu, Hamka bersama keluarga merantau ke Jakarta tahun 1949.
Pada suatu ketika, Sukarno meminta Hamka mengisi ceramah Isra' Mi'raj di Istana Negara, sekaligus didaulat menjadi imam shalat Idul Fitri pada tahun 1951 di Lapangan Banteng, Jakarta.
Dalam politik, Hamka menjadi aktivis Partai Masyumi dan juga masuk Pengurus Pusat Muhammadiyah. Perbedaaan dalam politik, Hamka bersama tokoh lainnya juga memperjuangkan negara berdasarkan Islam. Sedangkan Sukarno masih setia agar negara ini berdasarkan Pancasila. Perbedaan arah politik ini menjadi cikal bakal runtuhnya silaturahmi kedua tokoh bangsa ini.
Sukarno Wafat
Rezim berganti dari Sukarno ke Soeharto, ada angin segar. Buya Hamka dibebaskan. Ia kembali dapat beraktivitas sebagai mana sebelum di penjara.
Tiba-tiba ajudan Presiden Soeharto menghubungi Hamka pada 16 Juni 1970. Ajudan ini membawa amanat dari keluarga Sukarno agar wasiatnya Sukarno disampaikan kepada Buya Hamka. Apa pesan Sukarno kepada Hamka.
"Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjajdi imam shalat jenazahku," demikian wasiat Sukarno seperti dikutip Irfan Hamka, anak kelima pasangan Hamka - Siti Raham Rasul dalam bukunya Ayah, Kisah Buya Hamka, 2016.
Lantas, apa reaksi Buya Hamka?

1 week ago
10













































