HANTAVIRUS alias virus hanta bisa menular ke manusia lewat aerosol atau partikel di udara dan bisa mematikan. Virus itu dibawa oleh hewan pengerat atau rodensia seperti tikus dan kelelawar yang terinfeksi virus hanta. Hasil ekskresi seperti urin, tinja, atau air liur dari hewan tersebut harus diwaspadai, termasuk cara membersihkannya.
Tikus lazim dijumpai di kawasan permukiman, tempat kotor, hingga di laboratorium sebagai hewan percobaan. Masalahnya tikus yang terinfeksi virus hanta tidak memiliki gejala sakit, namun bisa menyebarkan virus itu. Sementara manusia tidak mempunyai kekebalan alamiah terhadap virus hanta. Sejauh ini belum ada obat dan vaksin untuk mengatasi penularan hantavirus.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut dokter spesialis mikrobiologi klinik Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Leonardus Widyatmoko, ada beberapa cara memutus transmisi penularan, di antaranya menghindari tindakan berbahaya, seperti menyapu kering area bekas kotoran tikus dan membuang bangkai tikus sembarangan.
“Harus pakai prosedur aman seperti pakai desinfektan, klorin, atau alkohol, dan alat perlindungan diri sarung tangan, masker,” ujarnya saat sosialisasi virus hanta secara daring, Senin, 18 Mei 2026. Sebelum pembersihan dilakukan, ventilasi harus dibuka selama 30 menit supaya ada sirkulasi udara.
Menurut Leonardus, kalangan pekerja yang berisiko terpapar hantavirus, antara lain petugas kehutanan yang berpotensi kontak dengan habitat tikus ladang, petugas kebersihan gedung lama, gorong-gorong. Masa pascabanjir juga dinilai rawan penularan. “Karena pascabanjir memaksa rodensia masuk ke permukiman warga,” kata dia.
Menurut keterangan Kementerian Kesehatan, setiap orang dari segala usia, ras, kelompok etnis, dan jenis kelamin berpotensi terpapar hantavirus ketika memiliki potensi kontak dengan rodensia pembawa hantavirus.
Adapun beberapa kegiatan berisiko yang memungkinkan seseorang terinfeksi hantavirus, yaitu membuka dan membersihkan kabin, gudang, lumbung, dan garasi yang lama tidak terpakai. Kemudian membersihkan rumah, pekerjaan konstruksi dan pengendalian hama, atau berkemah di lokasi rodensia bersarang.
Beberapa upaya pencegahan di hunian atau kantor dapat dilakukan, seperti menutup lubang di dalam atau di luar ruangan untuk mencegah tikus masuk. Kemudian menempatkan perangkap tikus untuk mengurangi populasinya, serta melindungi makanan atau minuman dari kemungkinan terkontaminasi rodensia.
Orang yang tertular hantavirus dapat mengalami manifestasi klinis yang berbeda tergantung pada tipe hantavirus yang menginfeksi. Pada jenis Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), pasien bisa mengalami gangguan ginjal akut dan umumnya disebabkan oleh tipe virus Hantaan, Dobrava, Saarema, Seoul, dan Puumala, yang tersebar sebagian besar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia
Sedangkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dapat mengakibatkan seseorang mengalami gangguan pada paru-paru dan umumnya disebabkan oleh virus Andes dan Sin Nombre yang tersebar sebagian besar di Amerika. Virus Andes diketahui bisa menular antarmanusia. Kasus virus Andes baru-baru ini menewaskan tiga orang penumpang kapal pesiar yang berlayar dari Argentina ke Spanyol.
















































