RIBUAN elemen pemuda, aktivis, dan seniman melebur dalam konser Bangkitlah Politik Anak Muda yang berkolaborasi dengan aksi Kamisan di kompleks Serangan Umum 1 Maret, Titik Nol Yogyakarta pada Kamis malam, 21 Mei 2026. Aksi yang bertepatan dengan peringatan 28 tahun reformasi 1998 itu menghadirkan panggung untuk membangkitkan kembali keberanian anak muda dalam semangat perlawanan. Merespon maraknya teror hingga represifitas di berbagai ruang publik belakangan ini.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam aksi yang diinisiasi Social Movement Institute berkolaborasi dengan Aksi Kamisan Jogja itu, tampil seniman Butet Kartaredjasa, aktivis DelPedro Marhaen, musisi Usman And The Blackstone, Majelis Lidah Berduri, hingga Efek Rumah Kaca.
Selama para aktivis dan musisi beraksi, panggung itu menampilkan latar sosok-sosok yang selama ini getol dalam gerakan pembelaan Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satunya gambar aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras sejumlah oknum tentara pada Maret 2026 lalu.
Dalam orasinya di hadapan massa, Butet mengajak kembali ingatan kolektif mengenai gerakan reformasi 1998 di Yogyakarta. Ia menarik garis historis mengenai bagaimana kekuatan gerakan mahasiswa kala itu mampu mengubah total peta politik nasional.
"Kawan-kawan, 28 tahun yang lalu kita ingat saat reformasi politik, anak-anak muda seperti Anda sekalian inilah yang berhasil melengserkan presiden yang berkuasa 32 tahun itu," kata dia.
Butet menuturkan, pada 20 Mei 1998 silam, ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru kota datang menghadap Raja Keraton Yogya Sri Sultan Hamengku Buwono X di Alun-Alun Utara. "Nama aksi itu Pisowanan Agung, mendaulat Sultan HB X dan Paku Alam untuk berpidato, merespons situasi sosial-politik saat itu," ujar Butet.
Konser Bangkitlah Politik Anak Muda yang digelar SMI berkolaborasi dengan Aksi Kamisan di Yogyakarta hadirkan Efek Rumah Kaca hingga Usman The Blackstone, Kamis (21/5). Tempo/Pribadi Wicaksono
Butet melanjutkan pemaparannya mengenai dampak dari gerakan tersebut bagi transisi kekuasaan di masa lalu, lalu mengaitkannya secara langsung dengan beban hidup yang dihadapi masyarakat hari ini. "Satu hari setelah Ngarsa Dalem (Sultan) menerima Pisowanan Agung, Pak Harto (Soeharto) mengundurkan diri dari presiden," kata dia.
"Nah, hari ini harga beras sudah Rp 17 ribu, saya tidak tahu minggu depan naik jadi berapa. Kalau harga beras naik, rakyat kelaparan. Maka saya akan bertanya kepada anak-anak muda di depan saya, apakah kalian sanggup berada di garis depan untuk memimpin revolusi?" tanya Butet.
Tidak berhenti di situ, Butet juga menyoroti film berjudul Pesta Babi yang belakangan coba dihalangi pemutarannya oleh sejumlah pihak. Padahal, kata Butet, dari film tersebut masyarakat sebenarnya bisa mendapatkan gambaran gamblang mengenai praktik kolonialisme gaya baru yang sedang terjadi di Indonesia. Salah satunya tercermin melalui penjajahan yang dialami oleh warga di Papua.
Dalam aksi panggung yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB hingga malam hari itu, band Efek Rumah Kaca turut memberi semangat lewat karya-karya ikoniknya. Mulai dari "Seperti Rahim Ibu", "Merdeka", "Sebelah Mata", "Putih", "Mosi Tidak Percaya", dan "Di Udara."
Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, di sela acara itu mengungkap pentingnya menjaga keberlanjutan pergerakan sipil demi tegaknya demokrasi. "Semangat reformasi merupakan sesuatu yang harus terus dirawat dan dijaga secara konsisten," kata dia. Ia mengingatkan bahwa meskipun sendi-sendi bernegara untuk menjaga iklim demokrasi sudah mulai dibangun pasca runtuhnya orde baru pada 1998 silam, pertahanan tersebut rupanya masih sangat rentan dan bisa kebobolan.
Cholil menilai bahwa hingga saat ini masyarakat masih cenderung mudah ditipu serta terbuai oleh janji-janji manis yang dilontarkan oleh para elit politik, yang mana pada akhirnya janji-janji palsu tersebut justru membawa bangsa ke dalam jurang kehancuran.
Di sisi lain, aktivis Aksi Kamisan, Muhammad Fakhrurrozi yang akrab disapa Paul, menuturkan kegiatan kali ini ditujukan sebagai wadah pemulihan semangat bagi anak muda. "Agenda hari ini sebenarnya diselenggarakan tidak hanya memperingati reformasi, tidak hanya memperingati Hari Kebangkitan Nasional, tapi untuk mengumpulkan kembali semangat anak-anak muda," kata Paul.
Ia menuturkan, sejak peristiwa aksi berujung ricuh Agustus 2025 silam, ketika sejumlah demonstran ditangkap dan diproses hukum aparat, pihaknya melihat seperti ada trauma dan ketakutan di kalangan aktivis muda. "Sehingga acara ini punya pesan kepada seluruh teman-teman muda yang ada di Indonesia untuk kembali bersuara," ucap Paul.
Paul menuturkan, anak muda terutama kalangan mahasiswa mesti terus bersikap kritis termasuk di masa Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini. Terlebih ketika ada kebijakan yang tak masuk akal. Mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Merah Putih. Kalangan aktivis dari perguruan tinggi seharusnya bertindak kritis terhadap jalannya kekuasaan.
"Kampus mestinya bukan menjadi penyambung dari proyek-proyek pemerintah, tapi mengkritisi apakah sebenarnya proyek-proyek, terutama proyek populis dari Presiden Prabowo punya manfaat signifikan atau tidak," kata dia. "Jadi acara ini diselenggarakan untuk menghilangkan rasa takut, setelah terjadinya penangkapan Agustus, dan juga teror terhadap Andrie Yunus."
Paul mengatakan lewat acara itu menjadi penanda untuk kaum muda berani melawan kekuasaan yang terindikasi menyimpang dan menyengsarakan rakyat. Solidaritas di antara anak-anak muda juga diharapkan bisa kembali tumbuh lewat konser itu.
Adapun aktivis HAM dari Lokataru Foundation, DelPedro Marhaen menuturkan gelombang kriminalisasi, teror, serta penangkapan yang menimpa kalangan aktivis belakangan ini memberikan dampak psikologis terhadap antusiasme pergerakan di lapangan. Konser ini pun dirancang sebagai medium pemantik keberanian kolektif tumbuh kembali.
"Konser ini salah satu tujuannya menumbuhkan keberanian lagi di antara anak muda, merajut sejaring solidaritas, sekaligus juga menjadi ruang pertemuan kembali," ungkap DelPedro.
Adapun pendiri Social Movement Institute (SMI) Eko Prasetyo menyoroti kondisi ketidakadilan ekonomi, komersialisasi dunia pendidikan, hingga semakin menyempitnya peluang dan lapangan kerja bagi generasi muda saat ini.
Eko merefleksikan bagaimana perjalanan panjang 13 tahun SMI yang penuh gejolak dan tantangan, termasuk tindakan represi berupa penyerbuan kantor mereka yang sempat terjadi sebanyak dua kali. "Kami masih bersedih atas kejahatan negeri ini, dalam acara ini semua memakai baju hitam. Karena sampai hari ini keadilan masih hitam, ekonomi makin hitam," ujarnya.

















































