Aktor teater Budi Ros akan mementaskan naskah lakon monolog berjudul Megalomania pada 16-17 Juli 2026, di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat. Sebuah lakon yang cukup menggelitik di tengah situasi saat ini, ketika situasi ekonomi dan politik yang sedang tidak baik-baik saja.
Budi Ros menjelaskan ide naskah Megalomania ini muncul sudah cukup lama pada 2008. Kemudian Budi menulis kembali naskah ini 12 tahun kemudian atau pada 2020. Ia kemudian meniatkan naskah ini dipanggungkan saat ini. Naskah ini dipentaskan dalam durasi 48 menit.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Waktu itu saya tulis ulang ketika berniat menerbitkan buku kumpulan monolog,” ujar Budi kepada Tempo, 14 Juli 2026. Ia menyebutkan naskah ini salah satu dari 27 kumpulan monolognya.
Ide menulis naskah Megalomania ini muncul sehabis berbincang-bincnang dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Dari sanalah kemudian salah satu aktor kawakan di Teater Koma ini menggarap naskahnya dan menyutradarai lakon tersebut. Dia juga yang memerankan tokoh bernama Raden Budi Yuwono yang akan menjadi sentral cerita ini.
Pilihan Editor:
Sebenarnya sejak tahun tahun lalu ia ingin mementaskan naskah ini. Namun keinginan itu tertunda terbentur hal-hal teknis. Kendati demikian, ia merasa naskah ini bisa dipentaskan setiap saat. “Menurutku lakon ini bisa cocok kapan aja. Sekarang ini juga cocok karena banyak orang kena Megaloman. Bukan cuma hari ini. Penyakit kan ada sepanjang zaman,” ujar Budi lagi.
Preview adegan monolog berjudul Megalomania yang ditulis, disutradarai dan dipentaskan Budi Ros. Dok. Zulfan (Teater Koma)
Megalomania berkisah tentang Raden Budi Yuwono. Merasa gagal dalam kehidupan nyata, Raden Budi Yuwono mencoba membangun hidup yang sukses dalam mimpi dan angan-angannya. Ia mengangankan dirinya seorang yang berkuasa di sebuah negara, sebagai seorang presiden, itulah jabatan yang disandangnya. Ternyata, mengangan-angankan diri menjadi seorang presiden pun tak mudah. Ia seringkali mendapatkan kritikan. Citra presiden yang bersahaja dan demokratis yang dibangunnya menjadi bahan olok-olokan. Di sisi lain, ia juga harus menghadapi keluarganya yang punya tuntutan di luar nilai-nilai kepantasan.
Pentas monolog ini merupakan pentas di atas panggung live pertama kalinya untuk Budi. Tetapi sebelumnya ia pernah bermonolog, mementaskan karya almarhum Nano Riantiarno yang berjudul Doktor Oh Doktor yang dipentaskan secara daring di saluran Youtube pada Juni 2021.
Pilihan Editor:
















































