Belajar teknik penyelamatan diri saat evakuasi kapal tenggelam dalam kegiatan War Journalism Program di Ankara, Turki, 19 September 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, Satu per satu partisipan program jurnalis perang (War Journalism Training) diangkut ke tengah danau atau semacam tempat cadangan air di perbukitan di pinggiran ibu kota Ankara.
Mereka dibawa per kelompok dengan speedboat. Di tengah danau, peserta yang sudah mengenakan jaket pelampung diminta untuk melompat secara bergiliran.
"Lompat-lompat," seru instruktur.
Tidak semua melompat dengan posisi sempurna. Meskipun mengenakan jaket penyelamat tetap saja ada yang 'terjungkal'berputar sebelum berada di posisi sempurna. Tak sedikit pula yang harus meminum air danau.
Selepas melompat, peserta diminta untuk segera berenang ke posisi aman menjauh dari kapal ke titik kumpul.
Pelatih dari Akademi Kepolisian Turki sebelumnya sudah mengarahkan terlebih dahulu bagaimana cara berenang secara berkelompok mengenakan jaket pelampung.
Peserta diminta untuk membuat satu barisan ke belakang per kelompok. Partisipan dengan kemampuan berenang ditempatkan di bagian belakang dan depan. Sementara yang tak bisa berenang ditaruh di tengah. Satu orang ditunjuk sebagai pemimpin atau kapten.
Setelah membuat barisan berbanjar, peserta duduk dengan kaki berselonjor saling mengait ke sisi paha teman berada di depannya. Pemimpin diposisikan di paling akhir.
Kemudian dengan arahan kapten, jurnalis yang diskenariokan sebagai penumpang kapal secara serentak mengayuh dengan dorongan tangan ke depan sehingga berenang mundur.
Namun semua tidak dibuat dengan mudah. Gelombang air buatan dari speedboat membuat proses penyelematan diri cukup menantang.
Gelombang terkadang membuat kaitan kaki dari peserta terlepas sehingga harus membuat barisan ulang kembali.
Belum lagi rasa lelah sehingga membuat 'jalan' menuju ke daratan menjadi lebih lama. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke daratan. Peserta yang salah arah membutuhkan waktu lebih lama.
"Salah satu ilmu yang bisa kita ambil yakni jangan tinggalkan kawan sendiri saat evakuasi menuju darat," ujar seorang peserta ketika ditanya oleh pelatih selepas berenang sebagai dilaporkan wartawan Republika yang ikut pelatihan tersebut.
Seorang instruktur mengatakan, jika ada pulau terdekat dari kapal tenggelam, maka lebih baik mencoba menggapainya daripada sekadar menunggu bantuan. Karena terkadang bantuan tidak tahu kapan akan datang.
Selain tentang evakuasi, peserta juga diajarkan bagaimana cara mengayuh perahu karet dengan benar. Peserta juga diajarkan cara melempar ban penyelamat ke arah korban.
Peserta War Journalism Program belajar evakuasi penyelamatan diri dari kapal tenggelam.

2 hours ago
2















































