BADAN Reserse Kriminal Kepolisian RI atau Bareskrim Polri memeriksa enam orang perwakilan manajemen PT Tepat Sukses Logistik (TSL) dalam kasus dugaan penyelundupan ribuan unit handphone atau HP impor. PT TSL diduga menjadi perusahaan cangkang untuk mengurus dokumen perkara importasi HP ilegal dari Cina.
"Sudah enam orang dari PT TSL yang diperiksa atau dimintai keterangan oleh tim penyidik," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Brigadir Jenderal Ade Safri Simanjuntak saat dikonfirmasi pada Jumat, 24 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ade mengatakan, salah satu yang dimintai keterangan yakni Direktur PT TSL. Namun dia belum mau merinci nama dan identitas lengkapnya. Berdasarkan akta perusahaan yang diakses Tempo Direktur PT TSL berinisial MT.
Bareskrim sebelumnya telah menggeledah kantor PT TSL yang berlokasi di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur pada Selasa, 21 April 2026. Penggeledahan kantor PT TSL merupakan pengembangan dari penggeledahan di enam gudang yang berada di Jakarta.
Dari penggeledahan tersebut penyidik menyita 76.756 unit barang yang terdiri dari 56.557 unit iPhone senilai Rp 225,2 miliar, 1.625 unit ponsel Android senilai Rp 5,38 miliar, serta 18.574 unit suku cadang ponsel, dengan total nilai mencapai Rp 235,08 miliar.
Berdasarkan temuan barang bukti tersebut, pemeriksaan saksi, dokumen pengiriman, dan keterangan transportir, penyidik melaksanakan gelar perkara. Selain itu, penyidik juga menetapkan dua tersangka berinisial DCP alias P yang berperan sebagai importir dan SJ sebagai distributor.
Keduanya dijerat dengan sejumlah pasal terkait tindak pidana perdagangan, perindustrian, standardisasi, telekomunikasi, perlindungan konsumen, serta tindak pidana pencucian uang.
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim juga menggandeng Direktorat Siber dan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Polri dalam mengembangkan perkara ini. Pengungkapan kasus penyelundupan ini merupakan bagian dari operasi Satuan Tugas Penegakan Hukum Penyelundupan Polri.
Polri menyatakan masih terus mengembangkan kasus ini untuk menelusuri pihak-pihak lain yang terlibat. Polri juga berkomitmen memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk barang guna mencegah kebocoran penerimaan negara dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.















































