REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memperkuat kapasitas laboratorium karantina guna mendukung sistem pengawasan penyakit hewan yang lebih andal dan berstandar internasional. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan Laboratory Mapping Tool (LMT) dan Proficiency Test (PT) Refresher yang digelar pada 2-5 Juni 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Karantina Uji Standar Barantin itu merupakan hasil kerja sama dengan Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF) Australia melalui program Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP) Regional Emerging Disease Support (REDS).
Kepala Karantina Uji Standar Barantin, Risma J.P. Silitonga, mengatakan penguatan kapasitas laboratorium menjadi langkah penting untuk memastikan sistem deteksi dan pengawasan penyakit hewan berjalan secara efektif.
Menurut dia, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman personel laboratorium terhadap penerapan LMT sekaligus memperkuat kemampuan dalam penyelenggaraan uji profisiensi.
“LMT menjadi instrumen penting untuk mengevaluasi kapasitas laboratorium, mengidentifikasi kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan, serta mendukung perencanaan pengembangan laboratorium secara berkelanjutan,” kata Risma dalam keterangannya.
Pelatihan menghadirkan Project Manager REDS International Program ACDP, Lee Trinidad, serta pakar Proficiency Testing ACDP, James Hollier. Keduanya memberikan pembekalan kepada personel Laboratorium Karantina Uji Standar terkait konsep dan implementasi LMT.
Melalui instrumen tersebut, kapasitas laboratorium dinilai secara menyeluruh, mulai dari aspek infrastruktur, organisasi, keamanan laboratorium, peralatan, pengelolaan bahan dan reagen, sumber daya manusia, pelatihan, penjaminan mutu, manajemen biorisiko, pengelolaan limbah, hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Risma menjelaskan hasil penilaian akan menjadi dasar dalam menyusun strategi penguatan kapasitas laboratorium serta menentukan prioritas pengembangan pada masa mendatang.
Selain pelatihan, tim ACDP juga melakukan kunjungan dan penilaian langsung terhadap fasilitas Laboratorium Karantina Uji Standar. Penilaian dilakukan menggunakan pendekatan semi-kuantitatif untuk mengidentifikasi area yang masih memerlukan penguatan dan perbaikan.
Risma berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat kapasitas laboratorium karantina Indonesia dalam mendukung sistem pengawasan penyakit hewan yang efektif dan terpercaya.
Ia menambahkan pendekatan serta hasil pelatihan tersebut ke depan diharapkan dapat diterapkan pada laboratorium karantina ikan, karantina tumbuhan, serta laboratorium keamanan dan mutu pangan maupun pakan.

4 days ago
6
















































