Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Menyusul operasi militer gabungan Israel-AS yang menargetkan beberapa lokasi di Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026 dan serangan balasan Iran di seluruh wilayah tersebut, banyak kapal berlabuh karena Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, tempat ratusan kapal pengangkut minyak melintas setiap hari, yang berpotensi memengaruhi perdagangan dunia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Elan Biantoro menyoroti lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir. Hal itu dampak dari meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Di kawasan tersebut sedang terjadi aksi saling serang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Harga minyak mentah yang sebelumnya berada pada kisaran 65 hingga 67 dolar AS per barel sekitar dua pekan lalu kini melonjak signifikan. Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah dilaporkan telah menyentuh kisaran 83 dolar AS hingga ke level 90 dolar AS per barel.
“Ya, seperti yang kita amati beberapa hari terakhir memang gejolak ini sudah memberikan dampak yang sangat signifikan terkait dengan harga,” kata Elan di Jakarta, dikutip Ahad (8/3/2026).
Ia memandang tren kenaikan harga, berpotensi berlanjut. Menurut dia, harga minyak bahkan dapat menembus 100 dolar AS per barel apabila eskalasi konflik terus meningkat, seperti yang pernah terjadi saat pecahnya perang Rusia dan Ukraina.
Konflik di Timur Tengah juga menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok energi global. Jalur pelayaran energi dunia di Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang dipantau karena pergerakan kapal tanker minyak mentah dilaporkan mulai terganggu.
“Tidak mustahil juga untuk mencapai lebih dari 100 dolar. Itu pernah terjadi saat shock perang Rusia dan Ukraina di awal, yang juga mendorong harga minyak hingga di atas 100 dolar per barel,” ujar Elan.
Ia menjelaskan dampak konflik tidak hanya berasal dari sisi pasokan minyak mentah. Ancaman pemblokiran Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu distribusi gas alam cair (LNG) global yang sebagian besar berasal dari Qatar dan dipasok ke pasar Asia maupun Eropa.
Gangguan tersebut dinilai dapat memicu reaksi pasar energi dunia dan berimbas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Lonjakan harga energi global berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri.
“Kalau konfliknya hanya jangka pendek, kurang dari tiga bulan, saya kira dampaknya tidak terlalu besar karena rantai suplai dan stok energi biasanya masih cukup untuk beberapa bulan ke depan,” tutur Elan.
Ia menambahkan kenaikan harga bahan bakar tetap akan meningkatkan biaya operasional industri. Kondisi tersebut berpotensi menekan struktur biaya produksi perusahaan energi maupun sektor industri yang bergantung pada energi.

3 days ago
18















































