AS Tunda Pengadaan Rudal Antiradar, Jadi Celah Baru Bagi Rusia dan China, Kemampuan F-35 Tertekan

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angkatan Laut Amerika Serikat menunda sementara pengembangan dan pengadaan rudal antiradar generasi terbaru AGM-88G Advanced Anti-Radiation Guided Missile–Extended Range (AARGM-ER). Keputusan ini tercermin dalam dokumen anggaran Tahun Fiskal 2027 yang menunjukkan pemangkasan pendanaan secara signifikan untuk program tersebut.

Dalam dokumen tersebut, hampir seluruh pembiayaan baru untuk AARGM-ER dihentikan, dengan dana yang tersisa sebagian besar berasal dari alokasi tahun sebelumnya untuk pengadaan komponen jangka panjang. Anggaran baru yang dialokasikan pada 2027 tercatat hanya sekitar 20 ribu dolar AS, sementara total nominal yang tercantum lebih dari 24 juta dolar sebagian besar merupakan sisa komitmen dari tahun fiskal sebelumnya.

Langkah ini menandai perlambatan tajam dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana program ini mendapat dukungan ratusan juta dolar. Angkatan Laut AS sendiri berencana melanjutkan kembali pengadaan pada Tahun Fiskal 2028, namun dalam skala terbatas dengan rencana pembelian sekitar 40 unit, jauh di bawah kapasitas produksi sebelumnya.

Secara keseluruhan, AARGM-ER tetap tercatat sebagai salah satu program prioritas dalam portofolio amunisi Angkatan Laut, dengan total nilai pengadaan diproyeksikan mencapai sekitar 2,43 miliar dolar AS. Hingga 2026, sebanyak 435 unit telah dipesan, dengan pengiriman awal dijadwalkan mulai tahun ini.

Rudal AGM-88G yang dikembangkan oleh Northrop Grumman dirancang sebagai peningkatan signifikan dari varian sebelumnya, AGM-88E. Sistem ini dilengkapi pencari target radar gelombang milimeter aktif, perangkat lunak yang diperbarui, serta pendorong baru yang meningkatkan jangkauan dan kecepatan.

Desain ulang struktur rudal, termasuk penghapusan sirip eksternal, memungkinkan AARGM-ER dibawa secara internal oleh pesawat tempur siluman seperti F-35 Lightning II. Kemampuan ini menjadikannya elemen penting dalam strategi penetrasi pertahanan udara modern, sebagaimana diberitakan Navalnews.

Namun, di balik ambisi tersebut, program ini menghadapi sejumlah kendala teknis. Dokumen anggaran sebelumnya mencatat penundaan jadwal kemampuan operasional awal (Initial Operational Capability/IOC) dari akhir 2024 menjadi akhir 2026. Pengujian lanjutan bahkan diproyeksikan mundur hingga 2028 akibat masalah teknis yang ditemukan selama uji terbang dan tahap kualifikasi.

Penundaan ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan operasional sistem tersebut di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman pertahanan udara global. Tanpa AARGM-ER, platform utama Angkatan Laut seperti F/A-18E/F Super Hornet, E/A-18G Growler, dan varian laut F-35 berpotensi kehilangan keunggulan dalam menekan sistem pertahanan udara lawan.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |