REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat menghabiskan sekitar USD 5,6 miliar atau setara Rp 94 triliun hanya dalam dua hari pertama serangan militernya terhadap Iran. Dana raksasa ini memicu kembali sorotan terhadap kerugian besar AS dalam menyerang Iran.
Menurut laporan The Washington Post, perkiraan tersebut, yang dibagikan kepada anggota Kongres AS, hanya mencakup biaya amunisi yang digunakan pada tahap pembukaan operasi. Jumlah tersebut tidak termasuk biaya yang lebih besar untuk mengerahkan pasukan, pesawat terbang atau angkatan laut di wilayah tersebut.
Laporan ini telah memicu kekhawatiran baru di Washington mengenai berapa lama AS dapat mempertahankan kampanye militer yang begitu intens.
Para pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa Pentagon menggunakan senjata canggih senilai sekitar 5,6 miliar dolar AS selama 48 jam pertama serangan tersebut. Ribuan serangan telah dilakukan di seluruh Iran sejak operasi dimulai.
Dana sebesar itu, di Tanah Air melampaui anggaran daerah Jakarta setahun yang nilainya sekitar Rp 91 triliun. Dana yang dihabiskan militer AS dalam dua hari itu juga lebih banyak dari gabungan APBD Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sekaligus.
Anggota parlemen AS sekarang khawatir bahwa laju operasi tersebut dapat dengan cepat menggerogoti persediaan senjata kelas atas Amerika. Menurut laporan tersebut, persediaan senjata AS sudah berada di bawah tekanan setelah bertahun-tahun memasok senjata ke Ukraina dan mempertahankan komitmen militer di Asia.
Untuk mendukung operasi di Asia Barat, sebagian aset militer telah dipindahkan dari kawasan lain. Bagian dari sistem pertahanan rudal THAAD dipindahkan dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Pentagon juga menggunakan rudal pencegat Patriot untuk bertahan melawan drone dan rudal balistik Iran.
Analis pertahanan Mark Cancian memperingatkan bahwa tindakan seperti itu mengandung risiko. “Semakin banyak THAAD dan Patriot yang ditembakkan, semakin besar risiko yang Anda tanggung di Indo-Pasifik dan Ukraina,” katanya, menurut The Washington Post.
Menanggapi pertanyaan The Washington Post mengenai status persediaan nasional, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan bahwa departemen tersebut memiliki “semua yang diperlukan untuk melaksanakan misi apapun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan pada jangka waktu apa pun.”

5 hours ago
2














































