REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia Teresa Indira menjelaskan ketertarikan generasi Alpha terhadap media sosial tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan perkembangan psikologis mereka. “Mereka adalah generasi pertama yang sejak lahir sudah hidup di lingkungan digital. Smartphone, YouTube, TikTok, dan berbagai platform lain menjadi bagian dari keseharian mereka,” ujar Teresa.
Menurut psikolog yang kerap dipanggil Tesya itu, generasi Alpha merujuk pada anak-anak yang lahir sekitar tahun 2010 hingga 2024 atau 2025. Pada 2026 ini, kelompok awal generasi tersebut telah memasuki fase pra-remaja hingga remaja awal.
Ia menjelaskan, dari perspektif teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion. Pada fase ini, individu sedang mencari jati diri dan berupaya memahami posisi dirinya di lingkungan sosial.
“Remaja sedang bertanya, saya ini siapa, saya cocok di kelompok mana, dan orang lain melihat saya seperti apa,” katanya.
Menurut Tesya, media sosial menyediakan ruang yang sangat sesuai dengan kebutuhan tersebut. Platform digital memungkinkan remaja mengekspresikan diri melalui foto, video, atau opini, sekaligus mendapatkan respons langsung dari lingkungan sosialnya.
“Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui,” ujarnya.
Selain faktor psikologis, ada pula aspek biologis yang turut berperan. Dia menjelaskan notifikasi dan interaksi di media sosial memicu pelepasan dopamin di otak, yang menimbulkan rasa senang dan mendorong keinginan untuk mengulang perilaku tersebut.
Kombinasi antara kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis membuat media sosial terasa relevan bagi remaja. “Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial,” kata Tesya.
Ia menilai pemahaman terhadap aspek perkembangan ini penting agar orang tua dapat melihat penggunaan media sosial secara lebih proporsional, serta mampu mendampingi anak dalam proses pencarian jati diri di era digital.
sumber : Antara

1 hour ago
3















































