REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Aksi demontrasi yang digelar di kawasan Polda DIY Selasa (24/2/2026), malam sempat diwarnai kericuhan. Pantauan Republika di lokasi, massa yang mengatasnamakan masyarakat yang resah terhadap aparat kepolisian itu memulai aksinya sekitar pukul 18.30 WIB atau selepas berbuka puasa.
Jalanan dari simpang empat lampu merah Gejayan menuju UPN ditutup pada pukul 19.00 WIB demi keselamatan bersama termasuk pengguna jalan. Selain itu, berbagai coretan juga tampak di tembok Mapolda. Yang paling menonjol tulisan ‘ALL COPS ARE BASTARD’, kemudian ada juga coretan bertuliskan ‘PEMBUNUH’.
Sempat terdengar bunyi ledakan sebanyak dua kali di lokasi, diduga merupakan petasan yang kemudian membuat ratusan massa lari berhamburan untuk menyelamatkan diri. Setelahnya, situasi di sekitaran Polda DIY kembali kondusif.
Massa menyuarakan berbagai tuntutan termasuk reformasi di tubuh kepolisian. Mereka mengecam dugaan tindakan kekerasan aparat terhadap masyarakat serta menuntut agar praktik represif tidak lagi terjadi dalam penanganan aksi unjuk rasa.
“Kami mendoakan teman-teman yang menjadi korban agar tenang di alam sana. Kami juga berharap aparat kepolisian menyadari bahwa tindakan kekerasan terhadap rakyat adalah hal yang salah,” ujar Yazi, salah satu peserta aksi, Selasa (24/2/2026), malam.
Ia menyampaikan, aksi yang digelar ini merupakan bentuk solidaritas sekaligus mendoakan rekan-rekan mereka yang menjadi korban dalam aksi demonstrasi sebelumnya, termasuk peristiwa pada Agustus tahun lalu. Yazi menyinggung adanya penangkapan tanpa kejelasan serta sejumlah peserta aksi yang sempat ditahan, termasuk mahasiswa dari UNY yang disebut baru dibebaskan.
Massa menilai peristiwa tersebut menjadi catatan serius dalam penegakan hukum dan kebebasan berpendapat. Selain itu, peristiwa penganiayaan oleh oknum anggota Brimob terhadap Arianto Tawakal (14), siswa MTsN 1 Maluku hingga tewas di Tual juga menjadi pemicu aksi ini digelar.
“Polisi harus hadir sebagai pelindung masyarakat. Tidak boleh ada lagi korban dari rakyat,” katanya.
“Kami mengutuk segala bentuk kekerasan. Kami hadir sebagai masyarakat yang muak dengan tindakan sewenang-wenang. Kami berharap ada reformasi kepolisian dan perubahan nyata ke depan,” ucapnya menambahkan.
Kehadiran mereka kali ini tidak mengatasnamakan institusi kampus tertentu, melainkan sebagai bagian dari masyarakat sipil yang resah terhadap kekerasan yang dilakukan aparat. Massa berharap pemerintah dan institusi kepolisian dapat melakukan evaluasi menyeluruh serta memastikan penegakan hukum berjalan adil dan transparan, tanpa mengorbankan hak-hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
“Kita berharap setidaknya polisi bisa sadar bahwa mereka tidak bisa melakukan aksi atau semenah mena terhadap rakyatnya. Polisi itu harus hadir sebagai garda pelindung bagi masyarakat. Tidak boleh ada korban yang timbul dari rakyat,” ungkapnya.
Hingga Selasa malam pukul 21.00 WIB, sejumlah polisi terlihat masih berjaga di dalam Polda. Mereka dibentengi kawat berduri.

1 hour ago
2
















































