PRESIDIUM Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) St. Thomas Aquinas periode 2024-2026, Ferdinandus Wali Ate, memberi dukungan kepada Paus Leo XIV di tengah polemik pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
PP PMKRI menilai pernyataan Trump yang menyerang secara terbuka Paus Leo XIV muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. "Narasi yang dibangun Trump berpotensi memperkeruh situasi dan menjauhkan dunia dari upaya perdamaian," kata Ferdinandus Wali pada keterangan pers yang diterima Tempo pada Kamis, pertengahan April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebaliknya, Paus Leo XIV menegaskan tidak gentar menghadapi kritik tersebut. Dalam keterangannya kepada wartawan di dalam pesawat kepausan sebelum tiba di Aljir, ia menekankan posisinya bukan sebagai aktor politik.
“Kami bukan politisi, kami tidak berupaya membuat kebijakan luar negeri seperti yang dia sebutkan dengan perspektif yang sama seperti yang mungkin dia pahami,” ujar Paus Leo.
Penegasan Misi Perdamaian Gereja
Paus asal Amerika Serikat itu pun menyatakan bahwa misi Gereja bersumber dari ajaran Injil yang menempatkan perdamaian sebagai nilai utama. “Yang saya katakan adalah bahwa misi Gereja sangat jelas. Injil mengatakan, berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian. Saya percaya bahwa Gereja memiliki kewajiban moral untuk berbicara dengan sangat jelas menentang perang dan mendukung perdamaian dan rekonsiliasi," ucapnya.
Ia juga menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan politik. “Saya tidak takut, baik terhadap pemerintahan Trump, maupun untuk berbicara lantang tentang pesan Injil,” kata dia.
PP PMKRI menilai sikap tersebut mencerminkan konsistensi moral Gereja dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan universal. Seruan untuk dialog, rekonsiliasi, dan penghentian konflik bersenjata dinilai sebagai panggilan etis, bukan sikap politik praktis.
PP PMKRI menyampaikan sejumlah sikap. Pertama, mendukung langkah dan seruan Paus Leo XIV dalam mendorong perdamaian dan keadilan global. Kedua, menolak segala bentuk delegitimasi terhadap peran moral Gereja Katolik dalam kehidupan internasional.
Ketiga, mengingatkan para pemimpin dunia agar tidak menggunakan narasi yang dapat memperburuk konflik. Keempat, mengajak generasi muda berpihak pada nilai kemanusiaan dan perdamaian. Kelima, mengajak rekan-rekan PMKRI mengambil sikap moral dalam merespons konflik global.
PP PMKRI juga menekankan pentingnya kepemimpinan global yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga bijaksana secara moral. Dalam konteks ini, suara Gereja dinilai sebagai penyeimbang agar dunia tidak terjebak dalam logika kekerasan dan dominasi. PP PMKRI terus mendorong nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian sebagai kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan perdamaian dunia.














































