Waspada Mikropenis pada Remaja, Pentingnya Deteksi Dini Sebelum Usia 14 Tahun

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu ketidakseimbangan hormon selama ini sering kali dianggap sebagai masalah yang hanya relevan bagi kelompok lanjut usia atau orang dewasa yang tengah mengalami fase penuaan. Namun, fakta medis mengejutkan diungkapkan oleh pakar andrologi, seksologi, dan anti aging dari Universitas Udayana, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And-KSAAM.

Menurutnya, kondisi kekurangan hormon ternyata tidak mengenal batas usia dan mulai banyak ditemukan pada kelompok remaja. “Bukan berarti anak-anak dan remaja tidak ada yang mengalami kekurangan hormon. Akibat bahan beracun banyak juga anak-anak dan remaja mengalami kekurangan testosteron dan hormon lainnya,” kata dia dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Gangguan hormon yang tidak ditangani sejak dini dapat menyebabkan perkembangan organ reproduksi tidak optimal, Prof Wimpie mencontohkan remaja dengan hormon testosteron rendah. “Pasien umur 17 tahun, ukuran penis kurang dari 1 sentimeter, hormonnya rendah. Ini setelah mendapatkan pengobatan, penisnya berubah 3 sentimeter, testisnya tetap tidak berubah," kata dia.

Prof Wimpie menyampaikan terapi hormon pada penderita mikropenis saat dewasa berisiko mengalami kemandulan. Hal ini disebabkan terapi testosteron hanya berdampak pada pembesaran penis, sementara fungsi testis tetap tidak berkembang.

Orang tua disarankan melakukan pemeriksaan apabila perubahan yang tidak sesuai dengan normal sebelum anak memasuki usia remaja, idealnya pada rentang usia 12 hingga 13 tahun atau maksimal 14 tahun. “Maksimal 14 tahun. Sebelum usia itu berarti masih bisa diintervensi, tapi kalau setelah usia itu yang masih bisa penisnya, walaupun memerlukan pengobatan seumur hidup ya, penisnya tapi testisnya enggak bisa. Itu berarti dia mandul, bisa hubungan seks tapi enggak bisa membuahi,” kata dia.

Prof Wimpie mengingatkan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap pembahasan seksualitas. Fungsi seksual bukan hanya masalah aktivitas seks, melainkan dapat menjadi indikator kondisi kesehatan seseorang.

“Jadi kalau kita bicara seks jangan 'oh tabu nih', enggak. Yang ingin kita bahas tuh apa di balik gangguan seks itu. Misalnya pria kalau ereksinya terganggu bukan hanya soal ereksi itu, tapi apa di balik itu penyebab,“ ujar dia.

Dokter anti aging specialist Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AMM) menyarankan orang tua untuk memantau perkembangan organ reproduksi anak seperti anak laki-laki terkait ukuran penis dan testis anak sesuai dengan usia atau tidak. “Sebaiknya dari usia 5 tahun sudah bisa kelihatan. Tapi kita lihat sejak pemeriksaan fisik sama lab nanti,” kata dokter lulusan Universitas Udayana itu.

Ivonne menekankan pentingnya menjaga pola makan sehat dengan mengutamakan real food dan membatasi konsumsi junk food yang bepotensi meningkatkan lemak tubuh. Peningkatan lemak tubuh dapat memicu penurunan hormon yang berdampak jangka panjang, khususnya terkait fungsi seksual dan reproduksi.

Menurut dia, masih banyak hormon seperti testosteron yang masih disalahartikan hanya untuk fungsi seksual. Mungkin datang ke sini ketika keluhan disfungsi ereksinya sudah terjadi.

Padahal, penurunan energi, performa fisik yang menurun, mudah lelah, serta pertumbuhan otot yang tidak optimal meski rutin berolahraga dan menjaga asupan protein bisa menjadi tanda kadar testosteron rendah. "Hormon itu bagi kita semua sangat penting. Kita bisa tertawa itu karena hormon, kita bisa nangis, kita bisa emosional itu karena hormon. karena hormon kita turun makanya kita kena aging, jangan dibalik. Bukan karena kita kena aging, 'Lha ya pantesan hormonnya turun', salah,” kata dia.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |