Oleh: Ahmad Saifulloh, Dosen Pendidikan Islam Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia hari ini sedang mengalami paradoks besar. Globalisasi yang digadang-gadang membawa kemajuan dan keterhubungan, justru melahirkan fragmentasi sosial, krisis identitas, dan ketegangan antarindividu, antarkelompok, bahkan antarnegara. Di banyak negara maju, termasuk Amerika Serikat, kita menyaksikan bagaimana kemajuan teknologi dan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan moral dan kohesi sosial. Polarisasi politik, krisis kepercayaan publik, rasisme struktural, hingga kekerasan berbasis identitas menjadi fenomena yang terus berulang.
Di tengah situasi global semacam ini, dunia pendidikan kembali mendapat tantangan: apakah ia benar-benar dapat menyiapkan generasi yang mampu hidup bersama dalam dunia yang majemuk dan saling terhubung, atau justru hanya melahirkan individu kompetitif yang tercerabut dari nilai dan makna hidup yang sebenarnya? Apakah dunia pendidikan Islam dapat menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam kancah global atau hanya menghasilkan generasi “penonton” yang inferior?
Pertanyaan inilah yang dijawab secara menarik oleh tim peneliti Universitas Darussalam Gontor (Ahmad Saifulloh, Bambang SU, Nurul Azizah) dan peneliti Universitas Darunnajah Jakarta (Muhammad Irfanudin). Penelitian ini bertujuan mengembangkan Islamic Global Citizenship Education (IGCE) atau pendidikan kewarganegaraan global yang islami di universitas bersistem pesantren. Temuannya menunjukkan bahwa universitas yang lahir dari rahim pesantren seperti UNIDA Gontor dan UDN Jakarta yang sering dipersepsikan tradisional, justru menawarkan pendekatan pendidikan kewarganegaraan global yang lebih komprehensif, berbasis nilai, dan relevan dengan krisis dunia modern.
Problematika Global Citizenship Education di Negara Maju
Konsep Global Citizenship Education (GCE) berkembang pesat di Barat, terutama pasca-Perang Dingin dan menguatnya agenda globalisasi. Namun demikian, praktiknya tidak selalu berjalan mulus. Di Amerika Serikat, misalnya, GCE sering kali berhadapan dengan realitas sosial yang penuh ketegangan. Hal ini bisa dilihat dari kondisi masyarakatnya saat ini di mana sentimen anti-imigran terus meningkat, diskriminasi rasial tumbuh subur, dan polarisasi ekstrem antara kelompok liberal dan konservatif makin meruncing.
Ironisnya, di negara pencetus globalisasi yang menjadi pusat teknologi dunia, media sosial dan kecerdasan buatan, justru polarisasi makin menjadi-jadi. Algoritma digital menciptakan echo chambers yang membuat individu semakin terkurung dalam pandangan sempitnya sendiri. Hal ini berarti globalisasi informasi tidak selalu melahirkan warga dunia yang berempati, tetapi justru individu yang mudah tersulut emosi dan kehilangan kemampuan dialog.
Fenomena serupa juga terlihat di berbagai belahan dunia lain, dari Eropa, Asia, hingga Australia. Globalisasi terlihat berjalan lebih cepat daripada kemampuan masyarakat membangun kesepahaman nilai bersama. Di sinilah GCE diuji. Apakah ia hanya mengajarkan “kesadaran global” secara kognitif tanpa dibarengi pengembangan fondasi moral dan spiritual yang kuat?
Universitas Pesantren dan Tawaran Konsepsi IGCE
Penelitian ini menemukan bahwa IGCE di universitas pesantren dimaknai bukan sekadar sebagai pendidikan tentang isu-isu global dan pengembangan kompetensi global mahasiswa. Akan tetapi, ia dimaknai sebagai pendidikan integratif yang menanamkan dua identitas sekaligus: identitas Muslim dan identitas warga global. Ini menjadi pembeda mendasar dengan pendekatan GCE sekuler yang sering memisahkan pendidikan kewarganegaraan global dari nilai-nilai agama.
Bagi civitas akademika universitas pesantren, menjadi warga global tidak berarti melepaskan keyakinan dan tradisi. Sebaliknya, identitas keislaman dan kesantrian justru menjadi landasan etik untuk berinteraksi dengan dunia global yang majemuk. Pendekatan ini penting di tengah krisis identitas global, ketika banyak generasi muda, termasuk di negara maju, yang mengalami kekosongan makna dan kebingungan nilai.
Universitas bersistem pesantren menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap dunia dapat berjalan seiring dengan keteguhan identitas. Inilah pelajaran penting bagi dunia internasional yang kerap terjebak pada dikotomi antara religiusitas dan modernitas.
Temuan lain penelitian ini adalah terungkapnya tujuan IGCE di universitas pesantren yang unik yaitu membentuk insan kamil (manusia paripurna). Hal ini terasa sangat relevan ketika kita melihat problem global hari ini. Banyak negara berhasil mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi gagal membentuk manusia utuh secara moral.
Di Amerika Serikat dan negara-negara industri maju lainnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, memunculkan kecemasan baru yaitu hilangnya beberapa jenis pekerjaan, dehumanisasi relasi sosial, dan melemahnya empati. Pendidikan yang terlalu menekankan kompetensi teknis terbukti tidak cukup menghadapi tantangan ini.
Universitas pesantren menawarkan pendekatan berbeda. Kompetensi global seperti critical thinking, kemampuan berkolaborasi lintas budaya, empati terhadap orang lain, dan penguasaan bahasa asing dikembangkan secara serius. Namun hal ini selalu diiringi pembinaan iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, lulusan tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap berkontribusi secara bermakna dengan tetap menginternalisasikan nilai-nilai agamanya.
Kurikulum Holistik di Universitas Pesantren
Masalah besar pendidikan kewarganegaraan global saat ini adalah keterputusan antara nilai yang diajarkan dan kehidupan nyata peserta didik. Selain itu, kompetensi global mahasiswa dikembangkan secara masif namun kering dari nilai. Penelitian ini menunjukkan bahwa keunggulan universitas pesantren terletak pada kurikulum holistik yang mengintegrasikan pembelajaran formal, kegiatan informal, dan model hidden curriculum-nya. Kurikulum yang mengembangkan secara seimbang kompetensi global mahasiswanya dengan internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.
Nilai-nilai global seperti toleransi, keadilan, kepedulian sosial, empati, dan kepemimpinan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dipraktikkan melalui kehidupan asrama, organisasi mahasiswa, dan pengabdian masyarakat. Ia juga dicontohkan secara langsung oleh pimpinan universitas, tenaga pendidik dan kependidikan yang tinggal bersama mahasiswa dalam sebuah kampus pesantren. Pendekatan ini sangat kontras dengan banyak universitas di dunia yang menempatkan pendidikan kewarganegaraan global hanya hanya pada kurikulum formalnya saja.
Sementara itu, isu etika global menjadi semakin mendesak seiring pesatnya perkembangan teknologi. Debat tentang etika kecerdasan buatan, privasi data, dan keadilan sosial kini mendominasi diskursus internasional, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa. Sayangnya, banyak perdebatan tersebut berlangsung tanpa fondasi nilai yang kokoh.
IGCE di universitas pesantren menempatkan Islamic worldview sebagai landasan dalam menyikapi tantangan global. Nilai keadilan, amanah, dan kemaslahatan menjadi kompas dalam menghadapi tantangan kemajuan teknologi dan globalisasi. Ini menunjukkan bahwa agama bukan penghalang kemajuan, melainkan sumber etika yang sangat dibutuhkan dunia modern.
Pelajaran untuk Menjawab Tantangan Global
Di tengah krisis global yang melanda berbagai negara, temuan penelitian ini menawarkan pelajaran penting: pendidikan kewarganegaraan global membutuhkan akar nilai. GCE tanpa fondasi moral dan spiritual hanya akan melahirkan warga global yang rapuh dan mudah terombang-ambing oleh arus teknologi dan informasi.
Universitas pesantren, dengan seluruh keterbatasannya, justru menghadirkan model pendidikan kewarganegaraan global yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Indonesia, melalui pengalaman universitas bersistem pesantren, memiliki kontribusi penting bagi diskursus pendidikan kewarganegaraan global.
Ketika banyak negara maju masih mencari bentuk GCE yang mampu memulihkan kohesi sosial, pesantren telah lama mempraktikkan pendidikan yang menyeimbangkan iman, ilmu, dan amal. Di sinilah pesantren tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Pada gilirannya, universitas berbasis pesantren diharapkan dapat mencetak generasi yang mampu mengikis fragmentasi sosial, krisis identitas, dan ketegangan antarindividu dan antarkelompok.

1 hour ago
2
















































