REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW — Ukraina dan negara-negara Uni Eropa yang bertetangga dengannya akan menjadi pihak pertama yang terdampak apabila serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporozhye (ZNPP) memicu insiden nuklir. Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Rosatom, Aleksey Likhachev.
PLTN Zaporozhye, yang merupakan fasilitas nuklir terbesar di Eropa, telah beberapa kali menjadi sasaran serangan sejak Rusia mengambil alih kendali atas fasilitas tersebut pada Maret 2022. Pada akhir pekan lalu, sebuah drone berpemandu serat optik dilaporkan menghantam ruang mesin Unit 6 pembangkit listrik itu dan menyebabkan kerusakan pada bangunan.
Rosatom menyebut insiden tersebut sebagai serangan yang disengaja terhadap peralatan utama pembangkit. Namun, pemerintah Ukraina membantah keterlibatan dalam serangan itu.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menjamin keamanan PLTN tersebut adalah dengan mengembalikannya ke bawah kendali Kiev.
Berbicara kepada wartawan pada Senin (1/6/2026), Likhachev memperingatkan bahwa ledakan atau kebakaran di area pembangkit dapat mengganggu pasokan listrik dan air ke unit reaktor.
"Setiap ledakan atau kebakaran menjamin hilangnya pasokan listrik dan air ke unit reaktor. Itu merupakan pertanda awal terjadinya insiden nuklir," kata Likhachev, sebagaimana diberitakan Russia Today.
Ia menambahkan, apabila fasilitas itu diserang menggunakan persenjataan yang lebih kuat, seperti rudal berat, maka bejana reaktor berpotensi rusak dan memicu pelepasan radiasi ke wilayah yang luas.
"Ukraina dan negara-negara Barat yang bertetangga dengannya akan menjadi pihak pertama yang menghadapi risiko serius jika hal itu terjadi," ujarnya.
Menurut Likhachev, pembahasan mengenai situasi di PLTN Zaporozhye juga disampaikannya kepada Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi.
Ia menegaskan bahwa dampak radiasi tidak mengenal batas negara. "Dengan membiarkan ketegangan meningkat di sekitar PLTN Zaporozhye, para pemimpin negara-negara Eropa menempatkan rakyat, kota, dan wilayah mereka sendiri dalam ancaman langsung," katanya.
IAEA yang menempatkan para ahlinya di lokasi pembangkit sebelumnya mengonfirmasi adanya serangan terhadap fasilitas tersebut. Namun, badan tersebut tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.
PLTN Zaporozhye saat ini dioperasikan oleh Rosatom setelah Wilayah Zaporozhye, Kherson, Donetsk, dan Lugansk bergabung dengan Rusia melalui referendum pada 2022. Referendum tersebut tidak diakui oleh Ukraina maupun sebagian besar negara Barat.
sumber : Xinhua

11 hours ago
7
















































