Tumbuh Kembang Anak Tidak Hanya Soal Berat Badan

4 hours ago 1

PARA orang tua mungkin sering merasa anak baik-baik saja selama berat badan dan tinggi badan buah hati sesuai. Padahal, tumbuh kembang anak tidak hanya soal fisik, tetapi juga mencakup perkembangan motorik, kemampuan bicara, respons sosial, hingga perkembangan emosional. Keterlambatan pada salah satu aspek ini sering kali dianggap sepele. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang si kecil mendapat penanganan yang tepat untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Dokter Spesialis Anak di Bethsaida Hospital Serang Muhammad Aidil Ilham menekankan pentingnya pemeriksaan rutin untuk memastikan kondisi anak tetap berada dalam jalur tumbuh kembang yang sesuai, sekaligus mencegah masalah kesehatan berkembang menjadi lebih serius. Ia menambahkan bahwa meskipun anak-anak memang rentan sakit, ada tanda awal yang sering muncul lebih dulu dan sebaiknya tidak diabaikan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tanda pertama adalah demam tinggi lebih dari 3 hari atau demam yang berulang. Kedua, batuk atau pilek berkepanjangan hingga lebih dari 2 pekan. Ketiga adalah nafsu makan menurun drastis, sulit minum, atau tampak sangat lemas. "Lalu diare atau muntah berulang yang berisiko menyebabkan dehidrasi," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 29 April 2026.

Tentu saja tanda soal berat badan yang tidak naik sesuai usia atau justru menurun juga perlu diwaspadai. Para orang tua pun perlu waspada ketika anak tampak cepat lelah dan tidak seaktif biasanya. Kemudian, orang tua juga perlu awas ketika ada keterlambatan milestone, seperti belum berjalan atau belum bicara sesuai usia. “Jika keluhan-keluhan tersebut menetap atau muncul berulang, segera bawa anak untuk berkonsultasi ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui lebih cepat dan penanganannya lebih tepat,” katanya.

Vaksinasi Anak Tidak Boleh Ditunda

Selain pemeriksaan rutin, langkah pencegahan lain yang tidak kalah penting adalah vaksinasi. Pemberian vaksin bisa membantu membentuk sistem kekebalan tubuh anak terhadap penyakit tertentu seperti campak, polio, hepatitis, pneumonia, hingga influenza, sehingga dapat menurunkan risiko infeksi berat maupun komplikasi.

Meski begitu, saat di lapangan, vaksinasi masih kerap ditunda karena khawatir anak demam atau rewel. “Demam ringan atau nyeri di area suntikan setelah imunisasi adalah hal yang wajar, karena tubuh sedang membentuk antibodi. Yang penting, vaksin diberikan sesuai jadwal dan kondisi anak dipastikan dalam keadaan baik,” kata Aidil.

Badan Kesehan Dunia (WHO) sendiri menjelaskan pentingnya imunisasi sesuai jadwal. "Jadwal imunisasi dirancang untuk melindungi di saat perlindungan paling dibutuhkan. Perlindungan untuk anak jadi tepat waktu," tulis WHO di media sosial resmi Instagram.

Jadwal imunisasi individu pun berbeda-beda setiap negara. Berdasarkan rekomendasi WHO, masing-masing negara menyusun jadwal imunisasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan kesehatan setempat. WHO pun sangat menganjurkan agar orang tua memastikan memberikan perlindungan maksimal melalui imunisasi. "Imunisasi kombinasi melindungi anak dari beberapa penyakit sekaligus. Lebih sedikit suntikan dan kunjungan, lebih banyak perlindungan," tulisnya.

Penting untuk orang tua mengikuti jadwal imunisasi. Karena bila terus menundanya, maka akan meningkatkan risiko terkena penyakit dan komplikasi serius. Melalui konsultasi dengan dokter, para orang tua pun bisa mendapat rekomendasi jenis vaksin serta jadwal imunisasi yang tepat sebagai langkah perlindungan kesehatan anak untuk jangka panjang.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |