Tradisi Alek Bakajang Upaya Mewariskan Sejarah

8 hours ago 4

TEMPO.CO, Padang - Empat kapal menyerupai kapal pesiar terparkir di Jembatan Batu Bala, Nagari Gunung Malintang Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat pada Jumat 4 April 2025. Masyarakat sekitar menyebutnya kajang. Ketika itu merupakan hari kedua Alek Bakajang di Gunung Malintang. Alek atau pesta itu sudah menjadi tradisi turun temurun dilaksanakan setiap Idul Fitri. Biasanya 4 hari setelah lebaran atau 4 Syawal. Pada tahun ini dilaksanakan pada 3 hingga 7 April 2025.

Prosesnya akan dimulai dengan membuat kapal secara bergotong royong yang dilakukan oleh pemuda dari 4 Jorong yakni Jorong Batu Balah, Koto Masjid, Koto Lamo dan Boncah, lalu juga ada satu kapal yang dibuat khusus untuk representasi kaum muda.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Mereka akan merakit kapalnya yang nantinya ketika acara sudah dimulai akan digotong ke dalam sungai. Motif yang ciptakan juga berbeda-beda, semuanya diserahkan kepada kreatifitas pemuda 4 jorong. Ada yang memasang boneka, ada juga yang mewarnai kapalnya.

Kapal yang menyerupai kapal pesiar sedang terpakir di bawah Jembatan Jorong Batu Bala, Gunung Malintang, Kabupaten Limapuluh Kota pada Jumat 4 April 2025. Kapal tersebut akan digunakan untuk Alek Bakajang yang dihelatkan pada 3 sampai 7 April 2025. Tempo/ Fachri Hamzah.

Selain kapal, dalam prosesi Alek Bakajang juga ada surau atau mushola yang dijadikan sebagai Istana Niniak Mamak dari 4 jorong tersebut. Istana tersebut nakal digunakan sebagai tempat terjadinya acara silaturahmi antara niniak mamak, pemuka agama, kaum muda dan pemerintahan. Istana tersebut juga akan dihias se menarik mungkin.

Ketika Tempo melihat tradisi itu pada Jumat 4 April 2025, prosesi Alek Bakajang sedang berlangsung di Istana Batu Bala. Para niniak mamak berjalan secara bersama-sama ke lokasi tersebut. Sesampainya di lokasi yang dituju, mereka akan disambut dengan Tari Pasambahan. Barulah diperbolehkan untuk masuk.

Secara historisnya menurut Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gunung Malintang Jamri Datuak Pamoko, kegiatan ini bertujuan untuk bersilaturahmi antar suku. Empat Kajang merupakan simbol jumlah suku yang ada di Gunung Malintang, ditambah 1 kapal untuk kaum muda dan pemerintah nagari. 

Kapal-kapal ini kata Jamri, selama 5 hari akan berkunjung ke Istana dari 4 kaum tersebut. Paling akhir akan berkumpul di Istana Koto Lamo.

"Koto Lamo paling terkahir karena disitulah asal dari kaum atau suku di Gunung Malintang ini," ucapnya.

Para Bundo Kanduang dengan pakaian adat berjalan menuju Istana Batu Balah, Nagari Gunung Malintang untuk menjalankan Tradisi Alek Bakajang pada Jumat 4 April 2025. Tempo/ Fachri Hamzah.

Alek Bakajang ini selain menjadi warisan yang dijalankan oleh lintas generasi, juga menjadi daya tarik wisata. Banyak masyarakat yang datang ke Gunung Malintang untuk melihat tradisi tersebut. Salah satunya Iswandi.

Dia merupakan warga asli Gunung Malintang, namun sudah merantau ke Pekanbaru, Provinsi Riau. Iswandi setiap tahunnya pasti pulang dan menyempatkan diri untuk melihat Bakajang. "Saya setiap tahun pasti lihat, karena ini unik dan menarik," ucapnya.

Pilihan editor: 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |