Sidang Darurat Keamanan PBB Memanas, Iran Beri Pesan Tajam ke AS: "Bersikaplah Sopan!"

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Ruang sidang Dewan Keamanan PBB yang biasanya kaku dan penuh tata krama diplomatik berubah menjadi panggung konfrontasi terbuka yang mencekam. Di penghujung sesi darurat mengenai eskalasi militer di Timur Tengah, sebuah insiden "perang kata-kata" terjadi antara perwakilan Iran dan Amerika Serikat, mencerminkan dalamnya jurang permusuhan antara kedua negara.

Suasana mulai memanas ketika perwakilan Amerika Serikat, dalam hak jawabnya, melontarkan serangkaian tuduhan tajam terhadap rezim Teheran. Utusan Washington tersebut menyebut Iran sebagai "mesin radikalisme" dan mengklaim bahwa rakyat Iran sebenarnya tengah merayakan serangan AS-Israel di jalanan karena berharap akan kebebasan dari tirani.

Wakil Tetap Alternatif Amerika Serikat untuk Urusan Politik Khusus di PBB Robert Wood secara terbuka menyebut pemerintahan Iran bukan sebagai entitas politik yang sah, melainkan sebagai entitas kriminal yang berbahaya. Dengan nada bicara yang konfrontatif, Wood melontarkan tuduhan berat bahwa Teheran adalah dalang di balik berbagai tragedi yang menimpa warga Amerika di luar negeri.

"Rezim di Teheran telah memimpin serangan yang merenggut nyawa orang Amerika. Ini adalah rezim yang telah membunuh puluhan ribu rakyatnya sendiri dan memenjarakan lebih banyak lagi hanya karena mereka menginginkan kebebasan dari tirani Anda," tegas Wood.

Tak tanggung-tanggung, Wood juga melontarkan penghinaan tajam yang menusuk langsung ke jantung diplomasi Iran di panggung dunia. Secara terang-terangan, ia menyebut kehadiran delegasi Iran di kursi Dewan Keamanan PBB sebagai sebuah anomali yang memalukan bagi institusi internasional tersebut.

"Kehadiran rezim ini di sini, di Dewan ini, merupakan sebuah ejekan (mockery) terhadap badan ini," ujar Wood dengan nada sinis.

Pernyataan ini sontak memicu suasana tidak nyaman di ruang sidang, karena dianggap merendahkan martabat salah satu anggota PBB di forum tertinggi yang seharusnya menjunjung tinggi protokol kesetaraan berdaulat.

Mendengar pernyataan yang dianggap merendahkan kedaulatan negaranya, Wakil Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, tidak tinggal diam. Saat Ketua Sidang memberikan kesempatan terakhir, Iravani memilih untuk tidak memberikan pembelaan panjang lebar, melainkan memberikan teguran langsung yang menusuk.

"Saya hanya memiliki satu pesan. Saya menyarankan perwakilan Amerika Serikat untuk bersikap sopan. Itu akan jauh lebih baik bagi Anda dan negara yang Anda wakili," tegas Iravani.

Tidak terima dengan teguran tersebut, perwakilan Amerika Serikat kembali menyambar mikrofon. Ia menegaskan tidak akan menggubris saran Iravani, sembari kembali menekankan bahwa Teheran telah membunuh puluhan ribu rakyatnya sendiri.

"Saya tidak akan mendiskreditkan sidang ini dengan memberikan tanggapan lebih lanjut kepada perwakilan dari rezim yang memenjarakan rakyatnya sendiri hanya karena menginginkan kebebasan," balas utusan AS tersebut dengan nada bicara yang meninggi.

Iravani membantah keras klaim Wood bahwa rakyat Iran senang negaranya dibom. Ia menyebut narasi itu sebagai bentuk penghinaan terhadap kenyataan di lapangan.

"Sangat menggelikan mendengar perwakilan AS mengklaim rakyat Iran merayakan serangan ini. Rakyat kami sedang berduka atas jatuhnya korban sipil, termasuk anak-anak sekolah yang tewas akibat bom Anda," kata Irvani.

Ketegangan ini menjadi puncak dari sidang yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut. Di tengah dentuman bom yang dilaporkan masih terjadi di wilayah Iran, adu mulut di markas besar PBB ini menunjukkan bahwa jalur komunikasi diplomatik kedua negara telah mencapai titik nadir.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |