Satu Abad NU: Merawat Tradisi, Menjawab Masalah Manusia

15 hours ago 4

Oleh: Aguk Irawan MN, Wakil Ketua Lembaga Seni, Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI-Pusat, Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Bantul

REPUBLIKA.CO.ID, Satu abad. Seratus tahun. Dalam hitungan kalender Hijriah, 16 Rajab 1344 itu jatuh pada 31 Januari 1926. Hari itu, di Surabaya, sebuah ikatan para kiai yang merawat tradisi memutuskan untuk berhimpun.

Nahdlatul Ulama (NU) lahir bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai respons atas keresahan global—kolonialisme dan imprealisme di negara muslim, nasib situs, makam-makam bersejarah di Hijaz—dan kebutuhan lokal akan benteng "Ahlussunnah Wal Jama’ah" di tanah Nusantara.

Kita membayangkan suasana Surabaya kala itu: kota pelabuhan yang bising, kolonialisme yang mencengkeram, dan arus pembaruan Islam yang kencang. Dalam kemelut itu Kiai Haji Hasyim Asy'ari, dengan restu gurunya Syekh Kholil Bangkalan, bersama Kiai Haji Wahab Chasbullah dan para alim lainnya, mendirikan sebuah perahu.

NU, jika boleh meminjam kata, adalah sarung: santai namun kokoh, membungkus tradisi tetapi fleksibel dalam perubahan. Sejarah mencatat, NU didirikan bukan untuk mencari kuasa politik instan, melainkan untuk menjaga "tradisi yang baik" (al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih) dan "mengambil hal baru yang lebih baik" (al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Cita-cita mereka sederhana namun mendalam: membangun peradaban yang berkeadilan, toleran, dan merawat persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah) serta kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

Kini, pada 31 Januari 2026, seratus tahun kemudian, kita menatap "jamiyah" (organisasi) ini bukan lagi sebagai kumpulan pesantren di desa terpencil, melainkan raksasa masyarakat sipil yang berdiri di tengah persimpangan zaman.

Namun, apa arti seabad jika ia hanya menjadi seremonial belaka? Tantangan di abad kedua ini jauh lebih rumit daripada sekadar menghadapi modernis atau kolonial. Kita hidup di masa di mana "kebenaran" mudah pecah menjadi serpihan-serpihan media sosial.

Eksklusivisme global menggoda, kolonialisme gaya baru dan zionisme menawarkan semu jargon perdamaian dunia, di tengah genosida dan penindasan. NU, di abad keduanya, dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana merawat tradisi di dunia yang tak lagi menghargai durasi?

NU dituntut untuk bergerak melampaui seremoni, menuju transformasi umat yang nyata. Tantangannya adalah menjawab masalah besar manusia—teknologi, keadilan ekologis, dan kemanusiaan—tanpa kehilangan akarnya di pesantren.

Di abad kedua ini, NU tidak boleh hanya menjadi penjaga masa lalu. Ia harus menjadi arsitek masa depan, tempat "tradisi" bukan lagi sekadar fosil, melainkan rujukan yang bernapas.

Maka, 31 Januari 2026 bukanlah sebuah titik finis. Ia adalah koma. Sebuah jeda untuk merapikan sarung, mengambil wudhu, dan kembali melangkah ke tengah gelanggang peradaban yang riuh. Selamat harlah. Semoga NU kian jaya dan manfaat buat umat. Amin.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |