Saat Toko Roti di Gaza Berhenti Beroperasi karena Blokade Israel

20 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah industri roti di Gaza yang dahulu memproduksi ribuan roti pita khas Timur Tengah kini terpaksa gulung tikar. Families Bakery adalah satu dari sekitar dua lusin toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia (WFP) yang telah menghentikan produksi dalam beberapa hari terakhir karena kekurangan tepung dan bahan bakar akibat blokade Israel.

"Semua 25 toko roti yang didukung WFP di Gaza telah tutup karena kekurangan bahan bakar dan tepung," kata badan PBB itu dalam sebuah pernyataan pada Selasa, 1 April 2025, dikutip dari Arab News.

WFP juga menambahkan bahwa mereka akan mendistribusikan paket makanan terakhirnya dalam dua hari ke depan. Abed Al-Ajrami, ketua Asosiasi Pemilik Toko Roti di Gaza sekaligus pemilik Families Bakery, mengatakan bahwa WFP adalah satu-satunya sponsor toko roti Gaza dan menyediakan semua kebutuhan mereka. "Dampak dari penutupan toko roti akan sangat berat bagi warga karena mereka tidak punya pilihan lain," ujarnya. 

Berbicara di depan oven industri besar yang belum dinyalakan, dia mengatakan bahwa toko roti merupakan pusat program distribusi makanan badan PBB tersebut yang mengirimkan roti ke kamp-kamp pengungsi di seluruh Gaza.

Meskipun gencatan senjata selama enam minggu telah memungkinkan warga Gaza yang mengungsi untuk kembali ke rumah-rumah mereka yang tersisa, negosiasi untuk mengakhiri pertempuran secara permanen telah terhenti.

Pada 2 Maret lalu, Israel memberlakukan blokade penuh di wilayah Palestina. Mereka juga memutus aliran listrik ke pabrik desalinasi air utama di Gaza. Pada 18 Maret 2025, Israel melanjutkan serangannya di Gaza. Beberapa hari kemudian, Hamas kembali mulai menembakkan roket ke Israel.

Kelompok militan Palestina tersebut turut menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata langsung dalam perang ini. Hamas menilai penutupan toko roti sebagai contoh nyatanya. Mereka menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk bertindak segera untuk menyelamatkan Gaza dari kelaparan dan kehancuran.

Adapun salah seorang penduduk Gaza khawatir akan masa depan. “Saya bangun pagi untuk membeli roti bagi anak-anak saya, tetapi saya mendapati semua toko roti tutup,” tutur Mahmud Khalil.

Warga Palestina lain, Amina Al-Sayed, mengakui kesulitan yang sama. Dia juga khawatir ancaman kelaparan akan segera kembali mengintai Gaza. “Saya sudah pergi dari satu toko roti ke toko roti lain sepanjang pagi, tetapi tidak ada satu pun yang beroperasi. Semuanya tutup,” ucapnya. “Harga tepung telah naik dan kami tidak mampu membelinya. Kami takut mengalami kembali kelaparan yang kami alami di wilayah selatan.”

Lembaga amal internasional yang bekerja di Gaza memperingatkan bahwa 2,4 juta penduduknya tidak dapat menanggung lebih banyak kekurangan setelah banyak dari mereka mengungsi beberapa kali selama kampanye militer dahsyat yang dilancarkan Israel sebagai tanggapan atas serangan Hamas pada Oktober 2023.

Gavin Kelleher dari Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan bahwa penduduk yang memanfaatkan gencatan senjata selama enam minggu untuk kembali ke rumah-rumah yang dibom telah mengalami kemiskinan yang sangat parah. 

“Kami telah dipersiapkan untuk gagal sebagai respons kemanusiaan. Kami tidak diizinkan membawa pasokan, kami tidak mampu memenuhi kebutuhan,” katanya.

Alexandra Saieh, dari lembaga amal Inggris Save The Children, menyuarakan pernyataan Kelleher. “Ketika Save The Children mendistribusikan makanan di Gaza, kami melihat kerumunan besar karena setiap orang di Gaza bergantung pada bantuan,” ujarnya. “Jalur penyelamat itu telah terputus.”

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |