Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan, terdampak keputusan Bank Sentral AS/The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (16/9/2026). (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan, terdampak keputusan Bank Sentral AS/The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (16/9/2026). Mata Uang Garuda tercatat berada di posisi Rp 17.753 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, rupiah terkoreksi 57 poin atau 0,32 persen menuju level Rp 17.753 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga cenderung tertekan yakni di posisi Rp 17.696 per dolar AS.
“(Sentimen eksternal) FOMC memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75-4 persen pada Rabu. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama Bank Sentral AS sejak Juli 2023,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Diketahui, dalam konferensi pers FOMC, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali kekhawatirannya mengenai inflasi, dengan menyatakan terlalu banyak kategori produk dan layanan yang menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas 3 persen dalam periode 6 dan 12 bulan. Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
“Namun, Presiden AS Donald Trump pada Rabu menuntut bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi 1 persen atau lebih rendah, beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga. Gesekan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independent,” terangnya.
Sentimen eksternal lainnya yang memengaruhi rupiah yakni dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim menyebut, pasar merespon positif adanya pembicaraan antara AS dan kelompok Houthi yang membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah. Reuters telah melaporkan, AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengadakan dialog selama akhir pekan, yang mana dalam pertemuan tersebut, Houthi menegaskan kembali komitmen mereka terhadap gencatan senjata tahun 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS atau Israel.
“Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam mengulangi klaimnya bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai dan bahwa AS diharapkan sudah mendekati akhir dari perang mereka. Namun, Washington dan Teheran masih berselisih mengenai Selat Hormuz, di mana aktivitas pelayaran melalui jalur air vital tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang,” lanjutnya.

1 hour ago
2















































