Rentetan Gempa Kuat Sepekan Terakhir dari Cincin Api Pasifik

5 hours ago 1

ADA persamaan antara gempa doublet di Venezuela yang terjadi pada Rabu, 24 Juni 2026, yang menewaskan lebih dari 2 ribu orang dan 11 ribu lebih luka-luka, dengan sejumlah gempa kuat lainnya di dunia sepanjang tujuh hari terakhir. Gempa lainnya itu termasuk gempa di Mindanao, Filipina Selatan.

"Peta seismisitas global menunjukkan dominasi aktivitas tektonik yang terkonsentrasi di sepanjang sabuk Cincin Api Pasifik," kata anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, lewat keterangan yang dibagikannya pada hari ini, Kamis 2 Juli 2026.

Dia merinci peristiwa paling signifikan dari rentetan gempa kuat di dunia tujuh hari terakhir adalah yang terjadi di Yumare, Venezuela. Wilayah tersebut diguncang oleh gempa ganda atau doublet berkekuatan M7,2 dan M7,5 secara berurutan, hanya dalam selisih 39 detik.

Kedua gempa itu dipicu oleh aktivitas sesar geser. "Percepatan tanahnya sangat kuat dan destruktif, sehingga menyebabkan kerusakan struktur bangunan yang masif di area terdampak yang memicu korban jiwa ribuan orang," tutur Daryono.

Setelah Venezuela, Jepang mengalami dua kejadian seismik penting yakni gempa M6,9 di Kuji pada 25 Juni 2026 dan gempa M6,0 di Iwate pada 1 Juli 2026. Dua gempa di sini, Daryono menerangkan, merupakan manifestasi dari proses subduksi lempeng yang berasosiasi dengan zona megathrust.

Berbeda dari gempa di Venezuela, titik pusat gempa yang terjadi di Jepang ini relatif lebih dalam dan di  bawah laut. "Jadi meskipun energi gempa di Jepang cukup besar, tapi guncangan yang dihasilkan tidak memicu kerusakan maupun tsunami."

Gempa kuat juga mengguncang Mindanao, Filipina, pada 26 Juni 2026. Berbeda dari di Venezuela maupun Jepang, gempa M6,5 di Mindanao ini diklasifikasikan sebagai gempa intra-slab atau deformasi batuan di dalam lempeng. Meski tidak menimbulkan kerusakan infrastruktur, magnitudo tersebut sempat memicu kepanikan warga di sekitar pusat gempa akibat kuatnya guncangan lokal.

Hiposenter (kedalaman pusat gempa) juga relatif dalam maka tidak menunjukkan potensi tsunami. Sebagai catatan, gempa ini terjadi setelah gempa M7,8 terjadi di Mindanao pada 8 Juni lalu menyebabkan 81 orang tewas dan lebih dari seribu yang terluka. Kala itu, gempa sampai memicu tsunami kecil sampai ke wilayah Indonesia.

Gempa kuat terkini sepekan terakhir adalah gempa M6,1 di Jurm, Afganistan, yang terjadi pada 27 Juni 2026. Pemicunya adalah deformasi bantuan kerak bumi yang cukup dalam. "Walaupun pusat gempanya berada di area yang kurang padat, propagasi gelombang seismik dari gempa ini menjalar cukup jauh hingga dirasakan dengan intensitas kuat di Kabul dan wilayah Pakistan," kata Daryono.

Menurutnya, seluruh rangkaian gempa kuat tersebut menegaskan kembali tingginya dinamika tektonik di sepanjang Cincin Api Pasifik. Setiap zona seismik di sabuk gunung api yang mengelilingi Samudra Pasifik tersebut memiliki karakteristik mekanisme sumber yang unik dengan dampak yang sangat bergantung pada kedalaman pusat gempa serta kondisi geologi masing-masing.

Cincin api pasifik. Dok. Wikipedia

"Kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama masyarakat yang tinggal di zona aktif tersebut," ujar Daryono. Mitigasi tak hanya mencakup kekuatan struktur bangunan, tapi juga ekstra waspada terhadap tanda alam tsunami. "Evakuasi mandiri ke tempat tinggi dapat segera dilakukan tanpa menunggu peringatan dini resmi," katanya menambahkan. 

Menurut doktor di bidang ilmu geografi dan pernah menjadi Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG ini, cincin api Pasifik memang lebih aktif dibandingkan dua sabuk cincin api lainnya, yakni Sabuk Alpide dan Sistem Punggung Tengah Samudra. Yang pertama membentang dari kawasan Mediterania, Turki, Iran, Himalaya hingga Asia Tenggara (Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara). Sedang yang kedua berupa jalur pemekaran dasar samudra, seperti di Samudra Atlantik. 

Cincin Api Pasifik sendiri mencakup Indonesia, Jepang, Filipina, Alaska, pantai barat Amerika, Selandia Baru, dan lainnya di seputaran Samudra Pasifik. Hampir seluruhnya adalah batas-batas lempeng tektonik yang saling bertumbukan dan menunjam atau dikenal sebagai zona subduksi.  Di zona inilah paling banyak terjadi gempa besar dan letusan gunung api.

"Sekitar 90 persen gempa bumi dunia dan sekitar 75 persen gunung api aktif di daratan berada di kawasan Cincin Api Pasifik," kata Daryono.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |