Psikolog Ingatkan Gen Z Jangan Gampang Terpengaruh Konten Nikah Muda

1 day ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kreator konten @azkiave menuai kritik di media sosial (medsos) karena dianggap menjadikan pernikahan muda sebagai bagian dari personal branding. Banyak warganet menilai kontennya mendorong perempuan untuk cepat menikah.

Azkiave sendiri diketahui memutuskan berhenti melanjutkan sekolah dan menikah pada usia 19 tahun dengan pria berusia 29 tahun. Menanggapi hal ini, Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia Prof Rose Mini Agoes Salim menyatakan anak muda terutama generasi Z perlu menyikapi konten pernikahan dini dengan bijak.

Menurutnya, konten semacam itu biasanya hanya menampilkan sisi manis saja, tanpa memberi gambaran soal tanggung jawab, konflik, atau tantangan yang akan dihadapi dalam pernikahan. "Orang yang mempropagandakan menikah dini biasanya hanya menampilkan sisi manisnya saja. Mereka bilang enak, kita bisa cepat jadi halal dan melakukan apa saja, tidak dianggap zina. Tapi mereka suka lupa dengan tanggung jawab dan tantangan nyata di pernikahan. Padahal hal-hal itu sangat penting," kata Rose saat dihubungi Republika, Senin (5/1/2026).

Prof Rose mengatakan menikah, baik di usia muda maupun usia matang, memang memiliki kemungkinan akan langgeng. Namun menurut dia, bagi yang menikah usia muda, terlalu banyak hal yang mesti diperhatikan oleh kedua pihak karena baik suami maupun istri mash dalam tahap perkembangan diri.

"Mereka harus menyesuaikan diri dengan diri sendiri, pasangan, dan bahkan nantinya sebagai orang tua. Pada usia muda, keberhasilan pernikahan itu tidak bisa dipastikan," kata dia.

Sebelum akhirnya memutuskan menikah, Prof Rose menekankan pentingnya memastikan kesiapan psikologis. Menurut dia, pasangan muda perlu memahami kapasitas diri masing-masing, termasuk self-esteem (harga diri) dan self-efficacy (keyakinan diri).

Setelah mengenal diri sendiri, pasangan harus menilai tanggung jawab yang dibutuhkan sebagai suami atau istri, sekaligus kemampuan beradaptasi dengan pasangan yang memiliki keinginan dan cita-cita berbeda. Jika tidak mampu menemukan jalan tengah, konflik kecil bisa berkembang menjadi masalah besar dalam rumah tangga.

"Harus memotret diri sendiri dan calon pasangan, apakah sudah sama-sama siap. Mereka punya gambaran yang bagaimana tentang dirinya? Apakah dia benar-benar mampu menghargai diri dan pasangan? Terus sudah bisa nyari jalan tengah enggak? Seperti itu," kata Prof Rose.

la juga mengimbau masyarakat, terutama anak muda, untuk selalu bersikap kritis terhadap berbagai konten dan pengaruh di media sosial, terutama yang terkait pernikahan. Menurutnya, keputusan menikah harus dipertimbangkan matang-matang dan disesuaikan dengan kesiapan diri.

"Jadi penting bagi warganet untuk lebih kritis melihat konten viral. Jangan mudah terbawa tren, karena influencer pun belum tentu bahagia atau mampu menghadapi masalah rumah tangganya secara nyata. Yang paling penting adalah menilai kesiapan diri sendiri sebelum memutuskan menikah," kata Prof Rose.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |