Prabowo Bawa Tiga Pesan Kemandirian dan Persatuan Global South di KTT BRICS 2026

4 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Presiden RI Prabowo Subianto membawa tiga pesan utama Indonesia dalam KTT BRICS 2026, yang menitikberatkan pada kemandirian nasional, persatuan negara-negara Global South, dan penguatan kerja sama konkret di dalam blok tersebut. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya pada Senin (14/9).

Menurut Teddy, pesan pertama yang ditekankan Presiden Prabowo adalah pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional. Kekuatan sebuah negara dinilai bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya sendiri.

"Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu," kata Teddy mengutip pernyataan Presiden.

Ketahanan di tiga sektor tersebut, lanjut Teddy, bukan hanya urusan domestik, melainkan menjadi modal bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan dan kepentingan nasionalnya secara mandiri di panggung global.

Persatuan Global South dan Semangat KAA

Pesan kedua yang dibawa Kepala Negara adalah memperkuat persatuan negara-negara Global South. Dalam sesi tersebut, Presiden Prabowo mengingatkan kembali pentingnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan dunia dengan mengutip pepatah Indonesia.

"Mengutip pepatah 'Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh', Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri," ungkap Teddy.

Teddy menambahkan, semangat Konferensi Asia-Afrika menjadi semakin relevan di tengah posisi negara-negara berkembang yang kian penting dalam perekonomian dan geopolitik dunia saat ini.

Menerjemahkan Kekuatan BRICS Menjadi Kolaborasi Nyata

Pesan ketiga menyoroti besarnya potensi BRICS yang mewakili separuh populasi dunia. Presiden Prabowo mendorong agar kekuatan besar ini diterjemahkan menjadi kolaborasi konkret yang memberikan manfaat langsung bagi negara-negara berkembang.

"BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang," tutur Teddy.

Ketiga pesan tersebut ditekankan Presiden Prabowo saat menghadiri sesi terbatas KTT BRICS 2026 bertajuk "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism" pada Sabtu (12/9). Selain itu, Presiden juga mendorong terciptanya tata kelola global yang lebih adil dan inklusif dengan tetap menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pusat sistem multilateral dunia.

"PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia," lanjut Teddy.

Teddy menegaskan bahwa Indonesia, melalui keanggotaannya di BRICS, akan terus aktif mendorong terwujudnya tatanan dunia yang lebih adil, setara, dan damai bagi seluruh bangsa.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |