Percaya Janji Manis Agen, Deden Kini Terjebak Jadi Tentara Rusia

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, 

Oleh Erik Purnama Putra

Deden (40 tahun) tidak menyangka, tawaran kerja menggiurkan yang didapatkannya pada medio Mei 2026, mengubah jalan hidupnya secara total. Dari seorang content creator di sebuah kota di Jawa Tengah (Jateng), kini Dede 'mendadak' menjadi salah satu personel Angkatan Darat (AD) Rusia.

Perkenalan dengan seorang agen asli Rusia berawal dari aktivitas Dede yang aktif di Instagram. Dia kerap meninggalkan komentar yang mendukung kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin, khususnya terkait perang melawan Ukraina, di berbagai unggahan.

Dari situ, ia tiba-tiba mendapat kiriman direct message (DM) dari warga Rusia asli. Dima nama panggilannya. Dima menawarkan Dede sebuah pekerjaan yang layak di Rusia. Dia mengaku, bisa membantu meloloskan warga negara Indonesia (WNI) untuk bisa bekerja di perusahaan besar atau sebuah kementerian Rusia.

"Cerita singkatnya, tiga setengah bulan lalu, aku ditawari bekerja oleh seseorang di Rusia. Infonya akan ditempatkan di kementerian-kementerian Rusia atau perusahaan besar di Rusia," katanya saat berkisah tentang perjalanannya menuju negeri Beruang Merah kepada Republika di Jakarta, baru-baru ini.

Wawancara Republika dengan Deden berlangsung selama empat hari. Selama itu pula, Deden kerap 'menghilang' untuk bersembunyi di bunker. Sudah menjadi standar operasional prosedur (SOP) di barak, semua prajurit harus dalam posisi bersembunyi ketika sirine berbunyi. Sirine bakal aktif jika mendeteksi ada benda bergerak yang hampir dipastikan merupakan drone kiriman Ukraina.

Dalam catatan Republika, Deden pernah mengenyam pendidikan di Kota Malang, hingga bergelar sarjana. Dia termasuk mahasiswa menonjol dan salah satu lulusan terbaik di angkatannya. Setelah lulus, ia tinggal di sebuah wilayah di Jateng dan meniti karier sebagai pencipta konten media sosial (medsos), khususnya Instagram dan Youtuber.

Karena Deden bisa berbahasa Inggris dengan baik, insentitas percakapan dengan orang yang baru dikenalnya di media sosial (medsos) ini berlangsung intensif. Tidak disangka, bujukan dari Dima berupa tawaran pekerjaan ‘resmi’ dari pemerintah Rusia dengan gaji menggiurkan, membuat Deden gundah.

Setelah mempertimbangkan untung rugi, ia pun menerima tawaran pekerjaan itu. Deden tidak curiga sedikit pun dengan Dima, yang dikemudian hari dicurigainya sebagai agen perekrut. Hal itu lantaran semua proses keberangkatan melalui prosedur resmi.

Satu lagi, Deden tidak mengeluarkan uang sepeser pun dalam urusan administrasi, akomodasi, hingga transportasi. Termasuk pengurusan e-visa dibantu sampai selesai oleh Dima. Pada akhir Mei 2026, ia pun naik pesawat dari Bandara Adi Soemarmo, Kabupaten Boyolali menuju Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten.

"Aku pun berangkat ke Rusia pada awal Juni 2026.Sebelumnya stay di hotel dekat Bandara Soekarno-Hatta Hatta lima hari. Semua akomodasi, hotel, tiket Solo-Jakarta, Jakarta-Moskow, dan hotel di Moskow dibiayai orang Rusia," ujar Deden.

Dalam perjalanan meninggalkan Indonesia, ia bepergian seorang diri naik Qatar Airways. Selama itu pula, Deden sama sekali tidak berkomunikasi dengan Dima. Namun, ketika ia sampai di Bandara Sheremetyevo, Moskow, ada orang Rusia yang ditugaskan untuk menjemputnya.

Orang itu berdiri tepat di pintu kedatangan. Dia seketika mengenali Deden dari foto yang pernah dikirimkannya kepada Dima. Dia pun langsung diantarkan oleh orang Rusia itu menuju ke penginapan yang telah dijanjikan.

Usai proses penjemputan itu, Deden merasa senang sekali karena ia diantar menggunakan mobil BMW. Seumur-umur, baru kali itu, ia merasakan naik mobil mewah. Sampai proses itu, ia masih tidak menaruh kecurigaan terkait masa depannya yang dipertaruhkan.

"Aku ditempatkan di hotel yang lumayan bagus, dan (besoknya) lanjut wawancara tentang Rusia. Tidak ada kecurigaan di sini. Besoknya (lagi), aku diarahkan ke kantor berbau militer, info awal akan ada tes beberapa hari, kalau gagal dipulangkan ke Indonesia," jelas Deden menjelaskan aktivitasnya sesudah menginjakkan kaki di Rusia.

Di titik inilah, Deden mulai curiga. Pikirannya yang sejak berangkat sudah dipenuhi bayangan bakal bekerja kantoran di Rusia dengan gaji sangat mencukupi, mulai sirna. Meski begitu, ia masih bisa tersenyum ketika petugas menyodorkan kontrak selama setahun dengan gaji sekitar 11 hingga 15 kali upah minimum provinsi (UMP) Jawa Tengah. Angkanya jika dimasukkan gaji plus bonus di kisaran Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan.

"Ternyata di sana, aku diminta tanda tangan kontrak untuk latihan militer. Info dari orang yang mengajak, itu hanya latihan wajib militer biasa. Aku kira awalnya memang begitu prosedurnya, semacam wajib militer di Rusia, setelah itu baru bekerja di lingkungan pemerintahan," ujar Deden.

Sudah kepalang tanggung, ia pun menjalani semua tahapan tersebut. Deden juga mengikuti latihan militer yang dipimpin tentara Rusia, dengan totalitas. Dia ingin mendapatkan hasil terbaik, demi bisa lolos dan bekerja di pemerintahan Rusia. Deden yang tidak memiliki pengalaman sama sekali dengan pelatihan militer, mulai terbiasa memegang senjata hingga bersembunyi ketika ada serangan.

"Semua serba cepat. Dan karena kulihat semua serba resmi, logo pemerintah Rusia, dan lain-lain, aku tanda tangan kontrak itu, meski juga tidak paham bahasa Rusia. Semua dilakukan setelah lolos tes kesehatan," ucap Deden.

Benar saja, Deden yang memiliki badan cukup besar untuk ukuran orang Indonesia, dengan mudah melalui tes kesehatan. Dia kemudian dikirim ke sebuah kamp di sebuah hutan, yang tak jauh dari Moskow untuk menjalani pelatihan. "Setelah (tes) itu, aku dikirim ke tempat pelatihan bernama Avangard dekat Moskow, tempatnya dekat hutan." 

Berikutnya, Deden menjalani pelatihan lanjutan di sebuah kawasan bernama Voronezh. Kesan pertama datang, ia merasa tempatnya tenang karena mirip apartemen empat lantai dan memiliki taman. Namun, realita sebenarnya baru muncul setelah proses itu.

Semuanya terjadi di luar ekspektasi. Hal itu karena latihan yang diberikan petugas memang ditujukan untuk menciptakan pasukan siap perang. Sebelumnya, Deden juga terkejut karena di kamp itu malah dihuni puluhan warga mancanegara alias sedikit yang asli Rusia.

Dari sejumlah perbincangan, hampir semua peserta pelatihan memiliki latar belakang militer. Yang pernah menjadi tentara di negaranya hanya mendapatkan pelatihan selama dua hari. Adapun Deden yang sebelumnya tak pernah pegang senjata di Indonesia, mendapatkan pelatihan militer selama dua pekan.

"Di sini aku sudah mulai curiga, ada banyak orang dari Afrika, Kolombia, Bangladesh, Filipina, dan lain-lain. Rata-rata (mereka) mantan tentara (di negaranya)," kata Deden yang sering berinteraksi dengan orang-orang asing itu.

Setelah menjalani pelatihan singkat itu, mereka semua langsung dikirim ke sejumlah wilayah yang dikuasai Rusia, yang dulunya merupakan wilayah Ukraina. Sepengetahuan Deden, mereka dibagi ke sejumlah zona perang, seperti Donetsk dan Lugansk hingga Zaporizhzhia untuk mempertahankan wilayah itu dari gempuran lawan.

Terhindar dari zona perang

Deden sempat dimasukkan ke dalam kelompok garda depan (front line) untuk berperang melawan Ukraina. Namun, ia merasa beruntung, karena seorang petinggi Angkatan Darat Rusia 'menolongnya'. Orang yang sudah kenyang pengalaman di medan pertempuan dengan memimpin berbagai pasukan tersebut merasa kasihan kepadanya.

Dia pun kemudian digeser dari batalyon tempur ke logistik. Karena penasaran, Deden pun bertanya langsung kepada perwira militer itu. Deden mengungkapkan, orang yang menolongnya juga bersimpati kepadanya, karena bisa bercakap bahasa Inggris dengan baik. Berkat kemampuannya itu, oleh tentara reguler Rusia, Deden kerap diminta sebagai penerjemah dengan sejumlah rekrutmen warga asing.

Deden menjadi satu-satunya orang nonkombatan di batalyon logistik. Keputusan itu hingga kini, menjadikannya terbebas dari ancaman peperangan secara langsung. Dia hanya bertugas memasok makanan, termasuk senjata kepada pasukan Rusia yang sedang berperang. Deden merasa bersyukur atas keputusan itu, yang seolah menyelamatkannya.

"Rata-rata mereka, termasuk saya, semua nggak tahu, kalau bakal dikirim ke garis depan. Cuma tahunya jadi tentara penjaga perdamaian. Bahkan tentara Rusia di sini saat mabuk, mereka nangis, sudah nggak sanggup dengan kondisi ini, mereka frustrasi perang nggak selesai-selesai," tutur Deden.

Meski begitu, bukan berarti ia berada di lokasi yang aman. Sebagai prajurit bidang logistik, Deden sudah berkunjung ke sejumlah zona perang untuk memasok pangan dan senjata ke tentara Rusia. Sevastopol, Voronezh, Lugansk, hingga sekarang di Donetsk adalah wilayah yang pernah dijelajahinya dalam menunaikan penugasan membantu menyuplai senjata tentara Rusia yang sedang berperang.

Semua wilayah itu ditempuh melalui perjalanan darat menggunakan truk. Dalam keseharian, Deden juga mengenakan atribut lengkap Angkatan Darat Rusia. Dia sempat mengirimkan fotonya Ketika mengenakan seragam kepada Republika. Namun, demi keamanan foto tersebut diburamkan, karena Deden masih berharap bisa balik ke Indonesia.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |