Pendidikan Seks Itu Perlu, Jangan Biarkan Anak Belajar dari Medsos

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membicarakan seksualitas sering kali masih dianggap tabu di banyak keluarga Indonesia. Padahal, menutup mata terhadap isu ini justru bisa menjadi bom waktu bagi keselamatan anak.

Pakar andrologi, seksologi, dan anti aging dari Universitas Udayana, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And-KSAAM, menyatakan pendidikan seksual sejak dini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah penyimpangan seksual pada masa depan. “Karena itu orang tua jangan meninggalkan anaknya, apalagi tiap hari anaknya nonton media sosial. Jadi pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu, berikan penjelasan kepada anaknya,” kata dia dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Orang tua perlu memberikan pendidikan seksual kepada anak sesuai usianya, Wimpie mencontohkan orang tua sesekali saat memandikan anak misalnya pada anak laki-laki diperhatikan perkembangan organ kelamin tumbuh dengan normal atau tidak. Sementara pada anak perempuan, pertanyaan seputar menstruasi atau perubahan fisik seperti jerawat juga merupakan bentuk pendidikan seksual yang tidak langsung.

“Di situ dari pengalaman saya banyak sekali orang tua memperhatikan itu, 'Kok anak saya ini enggak tumbuh-tumbuh misalnya penisnya, kok kecil dibandingkan teman-teman seumurnya?'. Itu salah satu cara yang sederhana sebetulnya yang bisa dilakukan orang tua,” ujarnya.

Prof Wimpie menyampaikan orientasi seksual dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik bawaan sejak lahir maupun lingkungan pergaulan. Kondisi yang bersifat bawaan tidak dapat diubah, sementara perilaku yang terbentuk dari lingkungan bisa muncul akibat interaksi tertentu.

“Kalau bicara gay gitu misalnya itu bisa memang bawaan dari lahir. Tapi dari pergaulan sekarang kelihatannya banyak itu, karena satu kos misalnya akhirnya melakukan hubungan homoseksual, tapi gaya sehari-harinya biasa saja enggak tampak, kalau itu ya karena lingkungan,” ujarnya.

Prof Wimpie juga mengatakan lingkungan keluarga yang harmonis berperan penting dalam mendukung perkembangan anak terutama secara psikologis. Jika kondisi rumah tangga yang tidak harmonis hingga membuat anak memiliki pengalaman masa kecil yang diwarnai konflik atau kekerasan dalam keluarga berpotensi mengalami tekanan psikologis yang bisa menjadi pemicu memengaruhi penyimpangan seksual anak di masa depan.

"Mungkin waktu kecil si anak itu melihat bapaknya melakukan kekerasan terhadap ibunya sehingga dia merasa 'aku harus membela ibu, aku sama dengan ibu'. Karena itu dalam mendidik anak, keharmonisan keluarga harus diperhatikan,” ujar Wimpie.

“Kalau mau bertengkar jangan di depan anak, bisa masuk ke kamar kunci baru berantem di kamar supaya anaknya enggak nonton. Yang penting itu menjaga anak dalam masa pertumbuhannya supaya betul-betul normal,” ujarnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |