REPUBLIKA.CO.ID, MADIUN, – Pemerintah Kota Madiun, Jawa Timur, tengah mengembangkan budi daya maggot untuk mengatasi masalah sampah organik di Pasar Besar Madiun. Program ini dijalankan secara swadaya bersama petugas kebersihan yang tergabung dalam Program Jasa Kebersihan (Projasih).
Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Madiun, Puguh Soepardijanto, menjelaskan bahwa budi daya maggot dipilih setelah melalui analisis dan pembelajaran, karena dinilai efektif dalam mengurai sampah organik dan memiliki nilai ekonomi yang bermanfaat.
Maggot dapat mengurai sampah organik dengan cepat, dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, sehingga memberikan nilai ekonomi. Upaya ini pernah dicoba pada tahun 2022 namun belum optimal, dan kini setelah melakukan studi tiru ke Bandung, program ini dihidupkan kembali di Pasar Besar Madiun pada tahun 2025.
Proses budi daya dimulai dengan pembelian bibit maggot yang kemudian dibesarkan dari fase bayi hingga menjadi pupa, lalu berkembang menjadi serangga, lalat, dan bertelur kembali. Siklus ini terus berulang dengan perawatan dan pemberian pakan rutin, dalam waktu satu hingga dua bulan, maggot sudah dapat dimanfaatkan untuk mendukung dua kolam lele di Pasar Besar Madiun.
Petugas Projasih mengerjakan program ini di sela-sela jam kerja mereka, mengubah sampah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi sumber pendapatan. Mereka juga sedang belajar membuat pelet campuran berbahan maggot, sayur, dedak, atau bekatul, khususnya saat terjadi kelebihan sampah.
Puguh berharap sampah organik di Pasar Besar Madiun dapat langsung dimanfaatkan dan diselesaikan di tempat. Maggot selain bisa dijual dalam kondisi segar atau kering, sisa pakannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, dan selongsong pupa pun bisa diolah menjadi pupuk.
Ke depan, metode pengelolaan sampah ini diharapkan dapat diterapkan di seluruh pasar tradisional di Kota Madiun. Dari total 17 pasar rakyat yang ada, nantinya akan dibentuk satuan tugas di masing-masing pasar untuk menangani sampah organik berbasis potensi ekonomi.
"Target kami ke depan, sampah organik pasar tidak lagi menjadi masalah. Tapi memang ini perlu proses belajar, namun harus dimulai dari sekarang," tambah Puguh.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

6 hours ago
2






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390103/original/004877800_1761227059-adam.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5390116/original/090162600_1761229244-20251023AA_Official_Training_Persija_Jakarta-02.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5233597/original/013085700_1748319472-IMG_9065.JPG)




