Nadiem: Saya Dilahirkan dalam Keluarga Pejuang Antikorupsi

1 day ago 11

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/1/2026). Nadiem Makarim didakwa melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara senilai Rp2,18 triliun terkait kasus dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kemendikbudristek pada tahun 2019–2022.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terdakwa kasus dugaan korupsi Chromebook, Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan dirinya dilahirkan dalam keluarga pejuang antikorupsi.  Dari orang tuanya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi periode 2019-2024 tersebut mengaku belajar berbagai nilai kebangsaan yang berdasarkan integritas.

"Dari kecil, saya disuruh orang tua duduk di meja makan mendengar aktivis-aktivis antikorupsi berdebat mengenai arah negara kita," kata Nadiem saat membacakan nota keberatan (eksepsi) dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin.

Ia pun merasa sangat beruntung lantaran keluarganya mampu menguliahkan dirinya ke luar negeri. Tetapi setiap kali lulus kuliah, baik Strata-1 (S1) maupun S2, Nadiem selalu kembali ke Tanah Air.

"Walaupun banyak kenyamanan yang bisa saya dapatkan saat berkarir di luar negeri, Indonesia selalu menarik daya kembali. Memang Indonesia punya banyak masalah, tetapi di dalam permasalahan itulah saya merasa bisa berkontribusi," tuturnya.

Sejak kecil, Nadiem menyampaikan orang tuanya selalu mengingatkan bahwa kesuksesan tidak ada artinya tanpa pengabdian. Menurutnya, kata-kata tersebut yang menjadi dasar pertimbangannya saat ditawarkan amanah untuk menjadi Mendikbudristek.

Kala itu, sambung dia, hampir semua orang di sekitar membujuk dirinya untuk menolak jabatan tersebut lantaran takut seorang Nadiem akan dihujat. Beberapa pihak juga mengingatkan ia akan diserang karena mantan Mendikbudristek tersebut tidak memiliki dukungan partai politik.

"Tetapi saya menerima amanah tersebut karena satu alasan, yaitu negara memanggil, generasi penerus bangsa memanggil. Menolak artinya menutup mata terhadap krisis pendidikan yang melanda negara kita," ucap Nadiem.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |