Menjemput Restu Guru, Napak Tilas Simbolik Pendirian NU dari Bangkalan ke Tebuireng

22 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayangkan seorang santri muda yang berjalan kaki ratusan kilometer di bawah terik matahari, mendekap erat sebuah tongkat dan tasbih dengan hati yang dipenuhi debar amanah. Di pundaknya, masa depan sebuah organisasi besar sedang dipertaruhkan melalui restu sunyi yang ia antar dari ujung Madura menuju pedalaman Jombang. Kini, puluhan tahun kemudian, perjalanan keramat itu kembali dihidupkan, bukan sekadar untuk menyusuri jalan setapak yang sama, melainkan untuk menyalakan kembali api spiritualitas yang menjadi fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama.

Cucu Kiai Haji Raden (KHR) As’ad Syamsul Arifin, KHR Ach Azaim Ibrahimy, memulai longmarch napak tilas pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dari Bangkalan menuju Tebuireng, Jombang, pada Minggu (4/1/2026). Perjalanan spiritual dan historis ini menelusuri kembali rute bersejarah pengantaran isyarat restu pendirian NU. Agenda ini dikawal langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Gus Yahya sendiri telah berada di kompleks Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, sejak dini hari. Ia mengawali agenda dengan melaksanakan shalat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil, disusul dengan pembacaan tahlil di maqbarah ulama besar Madura tersebut.

Syaikhuna Kholil Bangkalan adalah guru dari para ulama besar di Nusantara dan dikenal sebagai "Wali Qutub" pada zamannya. Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, beliau adalah penentu kunci berdirinya organisasi ini. Syaikhuna Kholil-lah yang mengirimkan isyarat restu spiritual kepada KH Hasyim Asy’ari melalui santrinya, Kiai As’ad, berupa tongkat yang disertai kutipan ayat Al-Qur'an tentang Nabi Musa, serta tasbih dengan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar. Tanpa restu dan isyarat dari Syaikhuna Kholil, Kiai Hasyim Asy’ari tidak akan berani mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya di sela-sela kegiatan.

Usai prosesi tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan Kiai Azaim bersama ribuan peserta longmarch lainnya. Pelepasan ini menandai dimulainya perjalanan menelusuri rute epik saat Kiai As’ad mengantarkan amanah dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng sekitar tahun 1924-1925.

Menurut Gus Yahya, napak tilas ini membawa pesan penting bagi kepemimpinan NU hari ini. “Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah ruhani yang diwariskan para pendiri NU,” tegasnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |