Menenun Literasi Reproduksi di Jantung Pesantren

1 day ago 6

Ilustrasi santri mengaji kitab kuning di pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik tembok pesantren yang kokoh dan tradisi keilmuan yang luhur, tersimpan sebuah urgensi yang sering kali terabaikan dalam heningnya ruang kelas: kesehatan reproduksi.

Selama ini, topik mengenai organ reproduksi sering kali dianggap tabu atau dibicarakan dalam nada yang sangat terbatas, padahal para santri berada dalam fase transisi biologis yang krusial. Memasukkan edukasi reproduksi ke dalam bilik-bilik pesantren bukan sekadar urusan medis, melainkan upaya menjaga amanah Tuhan atas raga, sekaligus membentengi generasi masa depan dari ketidaktahuan yang berisiko. Mari kita lihat bagaimana nilai-nilai agama dan sains bertemu untuk menciptakan remaja yang tak hanya berakhlak, tetapi juga berdaya secara fisik.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai mengambil langkah proaktif dengan membina kesehatan reproduksi remaja di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Kota Banjarbaru.

Dalam kegiatan tersebut, Anwar Fauzi selaku pemateri menekankan bahwa skrining organ reproduksi sejak dini adalah kunci kesehatan jangka panjang. Langkah preventif ini dapat dimulai dari pemeriksaan berkala hingga menjadi bagian wajib dari persiapan pranikah untuk menjamin keturunan yang sehat.

Edukasi kesehatan reproduksi menjadi sangat penting bagi komunitas pesantren karena pola hidup komunal yang mereka jalani menuntut pemahaman tinggi mengenai kebersihan personal dan kesehatan lingkungan.

Di tengah keterbatasan ruang dialog terbuka terkait isu ini, literasi yang tepat dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman informasi yang sering kali memicu masalah kesehatan seperti infeksi atau penyakit menular.

Dengan pemahaman yang benar, pesantren tidak hanya mencetak ahli agama, tetapi juga individu yang sadar akan hak dan kewajiban menjaga kesehatan tubuhnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Kegiatan pembinaan ini secara khusus menyasar santri kelas XI dan XII sebagai upaya pencegahan dini menghadapi fase dewasa. Langkah ini dinilai strategis mengingat data Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan bahwa di Kalimantan Selatan terdapat 728.211 keluarga yang memiliki remaja, di mana pesantren merupakan ekosistem terbesar yang menampung ribuan generasi muda tersebut.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |