Membela Machiavelli: Kenapa Il Principe Bukan Buku Orang Licik

1 hour ago 2

Image Nalendra Bimantara

Politik | 2026-06-27 15:04:30

Sumber gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Nama Machiavelli sudah telanjur menjadi sinonim untuk licik, dan tuduhan itu sebenarnya kurang adil. Il Principe, buku tipisnya dari awal abad ke-16, lebih sering dihujat daripada benar-benar dibaca. Padahal isinya bukan ajaran kejahatan, melainkan kejujuran yang langka tentang bagaimana kekuasaan benar-benar bekerja.

Machiavelli menulisnya pada 1513 setelah kehilangan jabatan di Florence. Ia bukan filsuf yang berteori dari menara gading. Ia mantan diplomat dan pengurus pertahanan kota yang pernah duduk di meja perundingan dengan raja dan paus. Ketika republik jatuh dan keluarga Medici kembali berkuasa, ia disingkirkan, dituduh bersekongkol, lalu sempat ditangkap dan disiksa. Dari pengasingan itu ia menuliskan apa yang ia amati sendiri selama bertahun-tahun mengawasi kekuasaan dari jarak dekat. Itu sebabnya bukunya terasa nyata, bukan khayalan di atas kertas.

Banyak orang ngeri pada caranya memandang manusia. Machiavelli menilai manusia cenderung mementingkan diri sendiri dan gampang lupa budi. Pandangan itu terdengar pesimistis, tetapi kenyataan tidak jarang membuktikannya benar. Ia tidak mengajak siapa pun membenci sesama. Ia hanya menyarankan pemimpin berhenti berpura-pura bahwa semua orang malaikat, sebab pemimpin yang naif justru paling gampang dijatuhkan. Sikap itu lebih tepat disebut kewaspadaan yang sehat daripada sinisme.

Gagasannya yang paling kontroversial, pemisahan politik dari moral, sebenarnya lebih halus dari yang dituduhkan. Ia tidak pernah mengatakan kejahatan itu indah. Ia mengingatkan bahwa pemimpin yang menanggung nasib banyak orang kadang dihadapkan pada pilihan yang tidak ada bersihnya. Menolak mengambil keputusan keras demi terlihat suci justru bisa berujung pada kehancuran yang menimpa rakyatnya sendiri. Ada beban moral tersendiri dalam memimpin, dan Machiavelli cukup berani menamainya ketika banyak orang lebih memilih berkhotbah.

Nasihat bahwa pemimpin lebih baik ditakuti daripada dicintai pun sering dikutip setengah-setengah. Machiavelli tidak memuja kekejaman. Ia bersikap realistis bahwa cinta rakyat itu rapuh dan bisa berubah dalam semalam, sedangkan wibawa lebih bisa diandalkan saat keadaan genting. Bagian yang jarang diingat adalah syarat tambahannya, yaitu jangan sampai dibenci. Artinya ia tetap menarik garis batas. Seorang pemimpin boleh disegani, tetapi tidak boleh menindas sampai rakyatnya muak.

Bagian yang justru jarang dibahas membuat pemikirannya makin layak dihargai. Machiavelli membenci tentara bayaran. Ia menganggapnya rapuh karena hanya setia pada uang, dan ia mendorong penguasa membangun kekuatan dari rakyatnya sendiri. Ada cinta tanah air yang tulus di balik nasihat itu. Ia bahkan menutup bukunya dengan harapan agar Italia yang waktu itu terpecah-belah dapat bersatu. Sulit menyebut orang dengan harapan sebesar itu sebagai sekadar penjaja kelicikan.

Soal citra dan agama, Machiavelli memang blak-blakan, dan justru itu yang membuat banyak orang gerah. Namun ia hanya menggambarkan kenyataan bahwa rakyat menilai pemimpin dari yang tampak di permukaan. Itu bukan ajakan untuk munafik, melainkan peta tentang cara persepsi bekerja. Pembaca tinggal memilih, hendak memakai peta itu untuk menipu atau untuk memahami. Machiavelli ibarat memberi pisau, dan apakah pisau itu dipakai memasak atau melukai adalah urusan yang memegangnya, bukan yang membuatnya.

Il Principe pada akhirnya bukan buku orang licik, melainkan catatan jujur dari orang yang berani menuliskan kebenaran yang tidak nyaman. Machiavelli menolak membungkus politik dengan gula-gula. Lebih dari lima ratus tahun berlalu dan nasihatnya masih dipakai diam-diam oleh banyak pemimpin yang di depan umum berlagak tidak pernah membacanya. Di situlah letak ironinya. Machiavelli ramai dihujat oleh dunia yang sebenarnya ia gambarkan dengan begitu tepat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |