Oleh: Lia Mazia, Ketua Prodi Bisnis Digital UNM
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah gelombang besar transformasi digital, saya sering bertanya: apakah kuliah bisnis hari ini masih relevan jika tidak dibekali teknologi?
Dunia usaha tidak lagi berjalan dengan intuisi semata. Data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), platform digital, dan inovasi teknologi telah menjadi mesin utama pertumbuhan bisnis.
Inilah alasan mengapa Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis ,menghadirkan Program Studi (Prodi) Bisnis Digital. Sebagai Ketua Prodi Bisnis Digital UNM, saya melihat langsung bagaimana perubahan industri terjadi sangat cepat.
Perusahaan kini mencari lulusan yang tidak hanya paham teori manajemen, juga mampu mengelola digital marketing, membaca data bisnis, mengembangkan e-commerce, membangun startup, serta memanfaatkan AI dalam pengambilan keputusan.
Jika perguruan tinggi tidak bergerak ke arah ini, maka lulusannya akan tertinggal. Di Prodi Bisnis Digital UNM, kami tidak mendidik mahasiswa menjadi penonton di era digital. Mereka kami latih untuk menjadi pelaku.
Melalui kurikulum berbasis industri dan pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa terlibat langsung dalam pengembangan bisnis digital, pengelolaan brand dan marketplace, pendampingan UMKM, hingga kolaborasi dengan mitra industri.
Ini bukan simulasi, tetapi pengalaman nyata yang membentuk cara berpikir profesional. Saya selalu menekankan, lulusan masa depan bukan hanya pencari kerja, tetapi pencipta peluang.
Itulah sebabnya ekosistem pembelajaran kami juga diperkuat dengan seminar industri, inkubasi bisnis, kompetisi inovasi, penelitian terapan, dan program pengabdian berbasis digitalisasi. Semua ini dirancang agar mahasiswa membangun portofolio dan jejaring sejak masih kuliah.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM memosisikan Prodi Bisnis Digital sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda yang ingin menggabungkan bisnis, teknologi, dan kreativitas.
Kami ingin lulusan kami tidak sekadar ikut arus ekonomi digital, tetapi menjadi bagian dari penggeraknya, baik sebagai digital entrepreneur, digital marketer, business analyst, brand strategist, maupun founder startup.
Bagi saya, masa depan bisnis Indonesia sangat bergantung pada seberapa siap generasi mudanya menguasai teknologi. Dan pendidikan tinggi tidak boleh tertinggal satu langkah pun dari perubahan itu.

2 hours ago
2
















































