REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG — Limbah cair industri tapioka di Lampung berpotensi menjadi sumber pengurangan emisi sekaligus membuka peluang investasi hijau. Sebanyak 23 pabrik tapioka yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) masuk dalam pipeline awal proyek pengurangan emisi metana yang dikembangkan PT ESGIN Global Partners (ESGIN).
Pipeline tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500 ribu ton CO₂e. Potensi itu terutama berasal dari upaya menekan emisi metana yang muncul dari pengolahan air limbah industri tapioka.
CEO PT ESGIN Global Partners Brandon Keam mengatakan, potensi tersebut menunjukkan sektor agroindustri dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek iklim dan investasi hijau di daerah.
“Lampung memiliki potensi besar dari sektor pertanian, peternakan, dan agroindustri. ESGIN ingin menghubungkan potensi tersebut dengan teknologi rendah karbon, green investment, dan carbon markets sehingga pengurangan emisi tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi industri, petani, dan daerah,” ujar Brandon.
Industri tapioka dinilai memiliki peluang pengembangan proyek karbon karena limbah cairnya mengandung bahan organik tinggi. Dalam proses pengolahan secara anaerobik, kondisi tersebut dapat menghasilkan gas metana (CH₄), yang memiliki kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.
ESGIN berencana mengembangkan teknologi methane capture, destruction, dan utilization untuk mengurangi emisi tersebut. Bergantung pada konfigurasi proyek, metana yang ditangkap juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
Pengembangan proyek akan diintegrasikan dengan sistem Digital Monitoring, Reporting and Verification (Digital MRV), carbon accounting, pengembangan proyek karbon, serta akses terhadap pembiayaan hijau dan pasar karbon.
Meski demikian, potensi 500 ribu ton CO₂e tersebut masih merupakan estimasi awal. Besaran pengurangan emisi yang dapat diverifikasi dan jumlah kredit karbon yang berpotensi diterbitkan baru dapat ditentukan setelah melalui studi kelayakan, penetapan baseline, pemilihan metodologi, monitoring, validasi, verifikasi, registrasi, serta pemenuhan regulasi yang berlaku.
Potensi pengurangan emisi juga dikembangkan melalui pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian. ESGIN bersama PT Juang Jaya Abdi Alam menjajaki pengolahan kotoran sapi dan biomassa jerami padi menjadi biochar.
Dengan basis populasi sekitar 20 ribu ekor sapi, kolaborasi tersebut menargetkan kapasitas produksi biochar hingga sekitar 30 ribu ton per tahun. Namun, kapasitas akhir masih akan ditentukan berdasarkan studi kelayakan, ketersediaan dan karakteristik bahan baku, konfigurasi teknologi, serta hasil pengujian kualitas produk.
Biochar tersebut diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pembenah tanah (soil amendment) guna mendukung peningkatan kualitas tanah dan praktik pertanian berkelanjutan. Pengembangannya juga akan dikaji sebagai proyek carbon removal dengan memperhatikan metodologi carbon accounting, ketahanan penyimpanan karbon, Digital MRV, validasi, verifikasi, serta standar dan regulasi karbon.
Menurut Brandon, pemanfaatan limbah peternakan dan jerami menjadi biochar dapat mempertemukan persoalan pengelolaan limbah dengan kebutuhan peningkatan kualitas tanah dan peluang ekonomi karbon.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin mentransformasikan kotoran ternak dan jerami padi menjadi biochar yang memiliki nilai bagi pertanian sekaligus berpotensi memberikan manfaat iklim. Model ini menghubungkan waste management, soil improvement, carbon removal, dan green investment dalam satu ekosistem ekonomi sirkular,” katanya.
Selain agroindustri dan peternakan, peluang pengurangan emisi juga dijajaki dari sektor persawahan. ESGIN berdiskusi dengan Pemerintah Provinsi Lampung mengenai penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD).
Metode tersebut dilakukan dengan mengatur periode penggenangan dan pengeringan sawah secara terkontrol. Selain berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan air, penerapan AWD dapat membantu mengurangi emisi metana dari lahan persawahan.
Pengurangan emisi dari sektor sawah selanjutnya dapat dikembangkan menjadi proyek karbon apabila memenuhi persyaratan metodologi, baseline, additionality, monitoring, reporting and verification, serta ketentuan regulasi yang berlaku.
Skema tersebut juga membuka peluang keterlibatan petani dalam transisi menuju praktik pertanian rendah karbon sekaligus menciptakan potensi sumber nilai ekonomi baru dari aktivitas pengurangan emisi.
ESGIN menilai pengembangan berbagai proyek tersebut dapat membentuk ekosistem ekonomi hijau dan sirkular di Lampung dengan mempertemukan pemerintah, petani, pelaku agroindustri dan peternakan, penyedia teknologi, lembaga keuangan, investor, serta pelaku pasar karbon.
Tahap selanjutnya mencakup studi kelayakan, validasi data, kajian teknologi, penetapan baseline, pemilihan metodologi karbon, pengembangan Digital MRV, carbon accounting, hingga penyusunan struktur investasi sebelum proyek memasuki tahap implementasi dan komersialisasi.

2 hours ago
2















































