REPUBLIKA.CO.ID, Setiap Muslim tentu mendambakan kembali ke fitrah, hidup di dunia tanpa menanggung beban dosa layaknya bayi yang baru lahir. Harapan besar ini dapat terwujud melalui ibadah haji yang mabrur, sebuah momentum spiritual sebagai sarana pembersihan diri secara total bagi mereka yang mampu menjaga lisan dan perbuatannya selama di Tanah Suci.
Dijelaskan KH Ahmad Sarwat Lc dalam buku Ibadah Haji: Rukun Islam Kelima terbitan Rumah Fiqih, bayi yang baru lahir tentu tidak pernah punya dosa. Kalau pun bayi itu dipanggil Allah SWT pasti masuk surga.
Siapa yang tidak ingin menjadi seperti bayi kembali, hidup di dunia tanpa menanggung dosa. Kalau pun Allah SWT memanggil pulang kembali kepada-Nya, sudah pasti tidak akan ada pertanyaan ini dan itu dari malaikat, karena memang tidak punya dosa.
Orang yang melaksanakan ibadah haji dengan pasti disebutkan sebagai orang yang tidak punya dosa, bagaikan bayi yang baru pertama kali dilahirkan ibunya ke dunia ini. Hal ini dikatakan Rasulullah SAW sendiri.
"Siapa yang pergi haji dengan tidak mengucapkan kata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia pulang seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang amal apa yang paling baik setelah iman dan jihad. Rasulullah SAW menjawab ibadah haji ke Baitullah.
Rasulullah SAW ditanya, “Amalan apakah yang paling utama?”
Rasulullah SAW menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Ditanya lagi, “Lalu apa?”
Rasulullah SAW menjawab, “Jihad di jalan Allah.”
Ditanya lagi, “Kemudian apa?”
Rasulullah SAW menjawab, “Haji mabrur.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Ibadah haji yang mabrur juga diberi balasan berupa surga.
"Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

2 hours ago
3















































