PIANIS Jennifer Halim dan soprano Iva Khuang tampil dalam pertunjukan lecture-recital bertajuk “KONFLIK DAN_______” di Ruang Tamu Tony, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, pada Jumat malam, 26 Juni 2026. Program yang menggabungkan piano dan vokal itu menyoroti respons musik terhadap konflik, duka, dan kerapuhan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Alih-alih menawarkan jawaban atau resolusi, pertunjukan ini menelusuri bagaimana pengalaman itu dibaca ulang melalui suara, ingatan, dan perubahan cara manusia memahami keberadaan dirinya. Jennifer Halim menjelaskan bahwa musik bisa menjelaskan banyak hal, termasuk konflik. Ia menilai bahwa berbagai makna bisa tercipta lewat irama. "Musik bisa melampaui hal-hal tersebut," katanya saat berpidato.
Sepanjang penampilan, Jennifer banyak menuturkan kisah-kisah di balik beragam lagu yang dibawakan. Inilah yang disebut lecturer-recital. Musik tak hanya dibawakan, namun turut dituturkan.
Repertoar yang dibawakan mencakup lagu "Johnny" karya Benjamin Britten, "Noël des enfants qui n’ont plus de maison" karya Claude Debussy, "Action des Grâces dari Poèmes pour Mi" karya Olivier Messiaen. Ada pun penampilan musik yang disajikan ialah "Piano Sonata No. 8 in B-flat Major Op. 84" karya Sergei Prokofiev, serta "Le Tombeau de Couperin" karya Maurice Ravel.
Lecture-recital ini mempertanyakan bagaimana musik dapat merespons konflik, duka, serta kerapuhan untuk terus melanjutkan hidup setelah semuanya terjadi. Program ini tidak berupaya menawarkan jawaban ataupun mencapai resolusi, melainkan menjelajahi bagaimana musik dapat mentransformasikan pengalaman-pengalaman tersebut melalui perubahan dalam suara, ingatan, ataupun cara manusia memahami keberadaan dirinya.
Bukan menggambarkan perang atau dampaknya secara langsung, program ini juga menelusuri bagaimana konflik diinternalisasi, dibiaskan, dan sejenak ditangguhkan di dalam bunyi. Di balik keseluruhan program terdapat suatu ketegangan yang terinspirasi oleh novel The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera.
Dalam pertunjukan ini, ada karya Sergei Prokofiev, sebuah sonata perang, yaitu "Piano Sonata No. 8" yang ditulis pada masa-masa akhir Perang Dunia Kedua. Dalam karya ini, konflik tidak lagi hadir sebagai kekuatan eksternal, melainkan sebagai suatu kondisi yang menyatu dalam waktu musikal itu sendiri.
Pendekatan yang digunakan dimulai melalui rangkaian karya untuk soprano dan piano, di mana suara manusia mengartikulasi beragam respons terhadap konflik. Dalam karya Claude Debussy, yaitu "Noël des enfants qui n’ontplus de maison", suara menjadi langsung dan penuh tudingan, menyaksikan kehancuran melalui emosi yang denganmudah mampu memperdaya, dinyanyikan dengan suara anak-anak.
Ada pun Johnny, lagu kabaret karya Benjamin Britten, menghadirkan jarak teatrikal, di mana ironi dan ambiguitas menjadi perantara terhadap kekerasan yang mendesak.
Kemudian, ada lagu "Action des Grâces" dari "Poèmes pour Mi" karya Olivier Messiaen. Di sini suasana beralih ke suasana yang lebih batiniah. Rasa syukur hadir bukan sebagai kemenangan atau penyelesaian, melainkan sebagai jeda yang rapuh di dalam waktu itu sendiri—sebuah pencerahan sesaat yang tidak menyangkal penderitaan, tetapi juga tidak sepenuhnya mampu melepaskan diri darinya.
Keseluruhan program diakhiri dengan "Le Tombeau de Couperin" karya Maurice Ravel, yang digubah untuk mengenang sahabat dan rekan seperjuangannya yang gugur dalam Perang Dunia Pertama.
Iva Khuang mengaku senang bisa ikut membawakan karya-karya ini. Ia bahkan mengaku mempersiapkan hingga dua bulan sebelum tampil. "Ada tantangan tersendiri," ujarnya.
Aditya Setiadi, ketua Yayasan Rumah Musik Indonesia, menjelaskan bahwa penampilan Jennifer dan Iva sangat istimewa karena memperkenalkan tonggak pertama musik modern. Karya-karya yang dibawakan keduanya merepresentasikan permulaan era baru dalam musik Barat. "Mereka membawakan musik yang baru. Yang mungkin belum cocok di telinga semua orang, namun penting," tutur Aditya.
Dalam pertunjukan ini, Aditya melanjutkan, Jennifer juga membagi kisah-kisah dan apa yang sebenarnya latar belakang dari masing-masing komposisi yang dimainkan. "Supaya publik juga tahu bahwa di karya-karya itu ada sejarahnya, ada ceritanya," ucapnya.
Jennifer, yang lahir di Medan, pernah tampil di sejumlah venue di Jerman dan Inggris. Ia juga berkolaborasi dengan beberapa orkestra, antara lain Wratislavia Chamber Orchestra, Newbury Symphony Orchestra, dan Wiesbaden Symphony Orchestra. Jennifer baru menyelesaikan MPhil in Music Performance di University of Oxford dengan predikat distinction.
Iva Khuang adalah soprano Indonesia yang kini tinggal di Belanda dan menempuh studi magister vokal klasik di Codarts University for the Arts, Rotterdam. Di panggung, ia pernah memerankan Susanna dalam Le Nozze di Figaro dan Despina dalam Così fan tutte karya Mozart.











































