Shilva Lioni
Parenting | 2026-06-28 11:57:06
https://www.shutterstock.com
Oleh banyak orang, kasih sayang orang tua sering diukur dari seberapa jauh mereka dapat melindungi anak mereka. Namun di balik itu, ada satu pertanyaan penting yakni bagaimana jika perlindungan yang diberikan tersebut justru menghalangi anak belajar tentang makna konsekuensi, tanggung jawab, dan batas-batas moral?
Pertanyaan ini kembali mengemuka setelah mencuatnya kasus Taufik Hidayat, tersangka penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di wilayah Jawa Barat. Kasus tersebut bukan hanya mengguncang publik karena tingkat kekerasan yang dilakukannya, tetapi juga karena terungkapnya cerita masa kecil pelaku akhir-akhir ini. Berdasarkan berbagai keterangan yang muncul di media dari pihak keluarga, Taufik disebut sering dimanjakan sejak kecil dan kerap dibela oleh ayahnya ketika terlibat konflik, terlepas dari ia benar atau salah. Bahkan sang ayah mengakui bahwa Taufik merupakan anak favorit dalam keluarganya. Apapun yang dia inginkan selalu diberikan sehingga sejumlah perilaku agresif kerap kali dilakukan jauh sebelum kasus besar ini terjadi.
Tentu saja, tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tumbuh menjadi pelaku kekerasan. Manusia merupakan makhluk yang kompleks. Karakternya dibentuk oleh banyak variabel seperti lingkungan sosial, pergaulan, pendidikan, kondisi ekonomi, pengalaman hidup, hingga faktor psikologis. Namun dibalik itu semua, pola asuh tentu tetap menjadi fondasi pertama tempat anak belajar memahami dunia.
Lebih lanjut, kasus ini kemudian mengingatkan kita bahwa sesungguhnya karakter buruk jarang muncul secara tiba-tiba. Ia biasanya tumbuh dengan perlahan, mendapat ruang, lalu berkembang tanpa koreksi yang memadai.
Ketika Kesalahan Tidak Pernah Diakui
Dalam psikologi perkembangan, anak belajar mengenai benar dan salah melalui proses dan konsekuensi. Saat melakukan kesalahan, ia menerima koreksi. Saat melanggar aturan, ia menghadapi akibat dari tindakannya. Dari proses itulah kemudian kemampuan mengendalikan diri, empati, dan tanggung jawab dapat tumbuh.
Masalah sesungguhnya muncul ketika setiap kesalahan selalu dibenarkan. Anak yang terus-menerus dibela akan memperoleh pesan tersembunyi bahwa dirinya selalu benar. Ia tidak belajar melakukan refleksi diri karena lingkungan telah menyediakan pembenaran sebelum ia sempat mengakui kesalahan. Lama-kelamaan, muncul keyakinan bahwa aturan hanya berlaku untuk orang lain.
Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai overindulgent parenting atau pola asuh yang terlalu memanjakan. Orang tua sering mengira mereka sedang menunjukkan cinta. Padahal, yang terjadi adalah penghilangan kesempatan anak untuk belajar menghadapi realitas.
Anak yang tumbuh dalam kondisi demikian sering mengalami kesulitan menerima kritik, mudah menyalahkan orang lain, memiliki toleransi frustrasi yang rendah, dan cenderung bereaksi agresif ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Dari Rumah Menuju Masyarakat
Persoalan overindulgent parenting pada dasarnya ini tidak hanya terjadi pada keluarga tertentu. Di sekitar kita, banyak orang tua yang tanpa sadar melakukan hal serupa dalam merespon sebuah hal. Ketika anak berkelahi di sekolah, orang tua merespon dengan mencari kesalahan pihak lain. Ketika guru memberi teguran, orang tua justru menyerang gurunya. Ketika anak gagal, selalu ada kambing hitam yang disiapkan. Ketika anak melanggar aturan, pelanggaran itu dianggap wajar karena "masih anak-anak." Banyak dari kita membela anak bukan karena dia benar tapi karena tidak tega melihatnya menanggung akibat dari kesalahannya sendiri. Padahal masyarakat membutuhkan individu yang mampu mengakui kesalahan, bukan individu yang selalu mencari pembenaran.
Kebiasaan membela anak secara membabi buta sebenarnya bukan lah sedang melindungi anak dari rasa sakit. Sebaliknya, orang tua sedang menunda pelajaran hidup yang suatu hari akan datang dengan cara yang jauh lebih keras. Dunia nyata tidak bekerja seperti rumah yang selalu memberi maaf. Di luar sana ada hukum, norma sosial, dan konsekuensi yang tidak bisa dinegosiasikan. Anak yang tidak pernah jatuh tidak akan tahu cara bangun ketika jatuh.
Kasih Sayang yang Mendidik
Kasih sayang sejati bukanlah menghapus setiap konsekuensi yang harus diterima anak. Kasih sayang sejati adalah membantu anak memahami mengapa konsekuensi itu ada. Orang tua yang baik bukan mereka yang selalu berdiri di depan anak untuk melindunginya dari kesalahan. Orang tua yang baik adalah mereka yang berdiri di samping anak ketika anak belajar memperbaiki kesalahannya.
Sebagai orang tua kita perlu mengingat bahwa membela anak ketika ia benar adalah kewajiban. Namun membela anak ketika ia salah adalah awal dari masalah.Karakter tidak dibentuk oleh pujian semata, melainkan juga oleh kemampuan menerima koreksi. Anak yang dibiasakan bertanggung jawab atas tindakannya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional. Sebaliknya, anak yang selalu dibebaskan dari konsekuensi berisiko akan membawa sikap tersebut hingga ia dewasa.
Pada akhirnya, kasus Taufik Hidayat lebih lanjut menjadi cermin bagi masyarakat mengenai pentingnya pola asuh dalam pembentukan karakter. Mungkin tidak semua anak yang dimanjakan akan menjadi pelaku kekerasan. Namun hampir pasti, anak yang tidak pernah belajar bertanggung jawab akan kesulitan menjadi pribadi yang dewasa.
Di tengah budaya yang sering mengagungkan "anak adalah raja", kita perlu mengingat kembali bahwa tujuan pengasuhan bukan membuat anak selalu bahagia, melainkan membuat mereka siap hidup sebagai manusia yang bermoral, berempati, dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan generasi yang selalu dibela. Masyarakat membutuhkan generasi yang mampu mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan menghormati batas-batas kemanusiaan dan semua pelajaran itu, pertama kali diajarkan di dalam rumah.
Sesungguhnya, mencintai anak itu mudah. Yang membuatnya sulit adalah mencintai mereka dengan cara yang benar-benar mempersiapkan mereka untuk hidup bukan hanya untuk bahagia hari ini. Tidak selalu hadir sebagai penyelamat itu bukanlah sebuah bentuk ungkapan “kurang sayang”.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
4















































